Si kecil menyongsong hari esok
Mentari pagi mulai menembus celah celah bumi lewat ruang pepohonan
Melewati batas yang biru nan indah yang cerah
Dan dingin kabutpun mulai engah dari peradabanya
Meninggalkan setetes dilembaran hijau nan segar
Ketika itu si kecil pergi meninggalkan lorong2 yang kumuh
Menuju sebuat tempat singgasana yang indah baginya
Disinggasana itu ia menyongsong hari itu
Bagaimana perut terisi tergantung dari penghuni singgasana itu,,
Ketika seulas bibirnya tersenyu pada penghuni singgasana itu
Lalu dia ayunkan tangan dan bbir bernyanyi tuk meminta
Ketika itu hidupnya ditentukan,,adakah yang mau berbagi denganya..?
Adakah hati yang berbelas dengan seulas senyum dbibir mungilnya itu..?
Ia tak peduli cercaan mata-mata yang memandangnya
Tak peduli dengan waktu yang terus berkutat mengejarnya
Hingga mentari diubun-ubunya ia tak peduli
Demi menyambung detik demi detik dan hari esok.....
No comments:
Post a Comment