Tuesday, 26 March 2013

kamu (rintik hujan yang mendamaikan)

entah Tuhan, rasa ini begitu sempurna kurasakan, menyatu dalam setiap aliran darah dalam denyut jantungku, menyatu dalam setiap udara yang kuhirup, begitu mendamaikan hati. tapi.... jika Engkau tanya asal rasa ini,akupun mungkin takan mampu menjawabnya, karena akupun tak tau dari mana asal rasa ini, mungkin dari izinmu, mungkin juga dari mata ini yang setiap saat melihatnya, mungkin juga dari seulas senyum tulus yang sempat menyapaku begitu indah dan lembut, mungkin juga dari angin lembut yang terus mengusik hati tentangnya, Entahlah Tuhan, Engkau yang lebih mengetahui akan semua apa yang terjadi kepadaHamba-MU. Jika ada yang bertanya tentang mengapa aku memilihnya untuk aku cintai, mungkin aku takan bisa menjawab, atau bahkan bungkam beribu hari untuk mencari jawaban mengapa ini ? karena yang aku tau hati ini selalu menuntut mataku tuk menatapnya, mungkin karena aku begitu damai saat melihatnya, ia yang begitu sejuk bagai semilir angin lembut, mungkin karena ia sangat damai bagai rintik hujan. beribu hari biji rasa ini telah tumbuh menjadi pohon cinta yang kecil, ia ku sirami dengan berbagai perasaan, kadang bahagia karena ia tersenyum lembut entah tuk yang ke-berapakalinya, kadang aku mengomel sendiri karena ia bagai batu yang selalu diam walau tau aku mencintainya, kadang juga ku sirami dengan airmata karena begitu lelah menantinya, ya,aku sangat lelah untuk menantinya, karena realitas yang terjadi ia tak mencintaiku, karena pada faktanya hanya aku yang terlalu berharap akan penyambutanya yang baik. kini, semua lelah dan penat memuncak pada ketinggian yang tak mampu ku gapai lagi, kini, rasa ini tak mampu lagi menahan terjangan angin yang kuat, biarkanlah aku menjadi orang yang selalu mengharap rintik hujan ditengan terik mentari, biarkanlah aku menjadi karang pantai yang selalu mencintai laut lepas, biarkanlah rasa ini tuk mencari jalanya sendiri, mungkin akan tetap bertahan didalam sini, yang entah sampai kapan, atau mungkin juga memudar seiring gempuran lelah yang menerjangku.

No comments:

Post a Comment