Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Sunday, 11 February 2018

Monday, 25 December 2017

Wisata Modern di Alam Bukit Panguk, Dlingo, Bantul



Sudah lama saya tidak menulis, kali ini saya akan menulis akibat teringat sebuah janji. Janji dengan salah seorang pemilik warung yang ada di bukit Panguk, Dlingo, Bantul.

Wisata Yogyakarta memang banyak, bahkan kunjungannya menjadi teramai kedua setelah Bali. Tentu saya yang sudah lama tinggal di Yogyakarta merasakan hidup bagaikan liburan setiap hari. Menjadi warga Yogyakarta sama saja diberikan tiket liburan setiap hari. Dekat dengan kota, dekat dengan alam.

Kali ini saya akan menjelaskan Wisata yang barua da di tahun 2017 ini. Bukit Panguk Kediwung, Dlingo, Bantul.


kalau pagi itu awannya loh, menawan sekali bagi para pencari negeri di atas awan. Tapi jangan lupa pakai jaket ya, karena dingin sekali kalau pagi. 
per spot foto dikenai biaya, kalau dulu sih 3.000 per foto, kalau sekarang tidak tahu, karena spot fotonya semakin banyak.



 

Gambar di atas pemandangan sekitar pukul sebelas siang. Panas sih, tapi pemandangannya itu loh yang saya suka. Surga banget deh, ya karena saya juga sebagai Putri Tami yang suka menulis dan suka alam. Entah sudah berapa kali ke sana.
Jalanan menuju Bukit Panguk juga sudah bagus sekarang, tidak lagi bebatuan seperti beberapa waktu lalu. Sekarang jalanannya mulus. Rute ke Bukit Panguk sama dengan rute ke Hutan Pinus, Kebun Buah Mangunan dan juga Puncak Becici yang dahulu didatangi oleh Obama.
Banyak plang jalan menuju ke sana, anda tidak akan nyasar deh.




Itu juga menjadi salah satu spot foto yang saya datangi. Semua spot foto saya datangi sebab spot foto untuk saya semuanya adalah gratis. Y gratis, kan itu daerah kampug bibi saya, jadi saya bisa sesuka hati untuk foto, tapi sekarang tidak bisa lagi. Foto harus diburu-buru untuk gantian dengan yang akan foto lainnya.




suka bunga-bunga unik, ini juga salah satu spot fotonya. Masih banyak lagi sebenarnya, 
ada spot foto kuda di atas awan, negeri dongeng di atas awan dan beberapa lainnya lagi. Hanya saja tidak saya fotokan semuanya.

Yang terpenting dari sebuah perjalanan adalah kulinernya. Nah ini dia rekomendasi kuliner di Bukit Panguk. Ingkung ayam jawa. harganya tergantung dari seberapa besar dan kecil ayamnya. Dipatok mulai seratus ribu per ayam hingga beberapa ratus, tergantung ukuran ayam.




 

Friday, 17 March 2017

Persoalan Perempuan, Bisakah Mendobrak Kebudayaan?

Kebudayaan adalah hasil karya dari budi dan akal, begitu kurang lebih menurut Ki Hajar Dewantara, yang teman-teman bisa baca sendiri di bukunya berjudul "Kebudayaan".

Ya, kebudayaan adalah ahsil cipta dari pemikiran sekelompok orang di suatu tempat. Dan suatu kebiasaan bisa menjadi budaya, salah satunya menikah dini di desaku, sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan. Menikahkan anak perempuan, terutamanya. Jika anak lelaki akan dibiarkan saja, maka tidak dengan anak perempuannya. Akan menjadi momok tersendiri untuk keluarganya. Pertanyaannya, mengapa perempuan? mengapa lelaki bebas? toh setelah menikah tanggung jawab masing-masing adalah sama.

............
Image result for quotes queen elizabeth  about women
(bussiness quotes for woman)


Malam itu hujan, belum reda hingga telepon mungilku berbunyi. Tertera di layar, panggilan dari ibuku, dan aku angkat dengan semangat. Telepati anak dan ibu begitu kuat, padahal baru beberapa waktu tadi aku baru saja membatin betapa merindukan ibuku, dan kemudian kini masuklah panggilan darinya.
Aku menjawab, dan kami asik berbincang apa saja, terutama kabar sehat, sebab sudah satu tahun aku tidak kembali ke kampung, lebih tepatnya aku berpikir dua kali untuk kembali. Aku sudah hidup di kota cukup lama, 8 tahun, dan keluargaku masih saja di desa yang sulit dituju.

Hingga akhirnya telepon itu tidak sebahagia tadi sebab ibuku di akhir telepon selalu menanyakan sudahkah aku menemukan seseorang? kata ibuku carilah yang biasa saja, tak perlu ini dan itu. Yang mau mau saja. Oh Tuhan, sebegitukah ibuku memandang seorang lelaki yang akan mendampingi anaknya kelak? aku keras menolak tidak mau dengan sembarang orang, sebab hidupku puluhan tahun ke depan akan dengan jodohku, aku tidak mau salah memilih.

Ibuku masih terjebak dengan kehidupan status. Status anak belum menikah dan status anak menikah. Sedang bagiku tidak penting suatu pernikahan jika itu hanya untuk status. Bagiku, aku ingin menikah dengan mengalir. Aku saling membutuhkan untuk menikah, bukan hanya melepas status perawan atau lajang.

Sulit sekali memberikan pemahaman kepada kehidupan di sekeliling ibuku bahwa menikah bukan sekadar persoalan status. Lebih dari itu. Ya sulit memberikan pemahaman kepada ibuku. Banyak buku yang aku baca, dan banyak lembar yang aku ketik, tetapi untuk meyakinkan dan memahamkan ibuku sendiri sulit sekali sebab ia hidup di lingkungan yang membudayakan menikah dini adalah yang terbaik, terlepas dari akan seperti apa hasil pernikahan tersebut. Padahal di desaku sudah banyak kegagalan membangun rumah tangga sebab menikah terlalu dini. Tapi Ibuku tak pernah mau tau sebab banyak juga yang bahagia dan aman.

Aku dilema, sedang aku pun dalam posisi menjadi orang kegika dalam hubungan orang lain di mana lelaki itu aku harapkan akan hidup bersamaku. Aku belum bisa melepaskannya sebab dialah yang aku temukan pas di dalam diriku. Hingga hari ini, dialah yang paling aku inginkan, namun juga dialah yang paling aku persiapkan ruang untuk terluka jika sewaktu-waktu ia mengatakan bukan memilih aku, namun memilih yang lain.

Kehadiran dialah yang aku tunggu, namun kehadiran dia dengan perempuannya yang tidak aku inginkan. Satu sisi aku ingin pergi, namun satu sisi aku menemukan aku jika bersama dirinya. Bisakah Tuhan segera menjawab kebimbanganku?

Kembali kepada persoalan kebudayaan. Mengapa perempuan yang dikorbankan? bukan lelaki yang juga dipaksa menikah cepat juga? Apakah masih berlaku zaman gelap itu? Zaman di mana perempuan menikah dengan tanpa 3 ibu, ibu asuh, asah dan asih?

Dahulu perempuan menikah cukup dengan asuh dan asih, tapi kehidupan sekarang membutuhkan perempuan untuk bisah asah (baca:mendidik) juga. Asuh (baca:mengasuh) kan memang dimiliki manusia secara lahiriah, begitu juga asi, pasti ada. Namun mendidik zaman kini juga dibutuhkan. Perempuan juga berhak untuk mendapatkan haknya berpendidikan, tidak hanya lelaki saja. Kehidupan sudah maju Bu,

"Ah, susah menjelaskan kepada Ibuku," Lebih susah memahami Ibuku dibanding memahami filsafat yang njelimet. Lebih susah menjelaskan kepada ibuku bahwa zaman a,b dan c.

Lalala saja.

Tamat.

Sunday, 6 November 2016

Persahabatan dalam Kehangatan Bersama Pelalawan.





(Akhir-akhir ini aku mulai merasakan manusia kehilangan rasa di dalam jiwa (baca:ruh) dan menyebabkan banyak kerusuhan terjadi. Mari bangkitkan ruh diri sebagai manusia)


                       "Ada saatnya kita duduk bersama, menikmati malam sebagai teman, tanpa membawa pasukan jabatan dan pangkat dalam kehidupan." P.T




Mafa, akhir-akhir ini kehidupan di duniaku mulai kacau meracau. Dunia semakin cepat tanpa mengenal jeda. Tanpa mengenal istirahat dan merasakan segala sesuatu yang terjadi. Milan Kundera di dalam bukunya yang berjudul "Kitab Lupa dan Gelak Tawa" pun membahas hal ini. Membahas dunia yang mulai kebingungan membedakan maja peristiwa dan mana sejarah karena terlalu cepatnya arus informasi.

Sejarah adalah suatu peristiwa yang lampau akibat dari adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Namun hari ini, kejadian kemarin pun bisa jadi sejarah karena hari ini telah dilupakan dan ada kejadian baru. Begitu banyak peristiwa dan kejadian besar akhir-akhir ini. Dan bagaimana cara mengingat sejarah penting yang terjadi. Hampir semuanya kabur, bahkan kebenaran pun tiada bisa dilihat saat itu juga, melainkan benar kata Guru Besar Bangsa ini (baca : Gus Dur) bahwa waktu masih menyimpan banyak kebenaran untuk kehidupan. Yang bisa jadi kebenaran itu akan diungkap, namun bisa jadi akan tetap tersembunyi.

Mafa, kali ini aku tidak akan membahas dalam tentang sejarah dan dunia yang sudah sangat cepat sekali. Aku hanya akan membahas pertemuanku semalam bersama teman lama. Mereka dari IPMR-KP Yogyakarta. Sebuah organisasi daerah yang dahulu aku pernah belajar banyak di dalamnya. Organda itu mengajarkan aku cara untuk berjuang di tengah-tengah perbedaan. Berjuang di dalam kuat seorang diri.

             


                    (Foto pelantikan Ikatakn Pelajar Mahasiswa Riau-Kab.Pelalawan-Yogyakarta. 
                    Gedungnya saja yang terlihat mewah, namun perjuangan teman-teman untuk 
                berjalannya acara ini patut diabadikan. Tidak lagi berpangku tangan menunggu anggara dari Pemkab Pelalawan, namun bekerjakeras dengan berbagai cara untuk mendapatkan dana pelantikan.)



Semalam, 5 November 2016 IPMR-KP Yogyakarta melantik pengurus periode ini. Yang menjadi ketua adalah Roma Idrawan. Sosok yang aku kagumi sebab ia tekun terhadap sesuatu. Budaya dan musik Melayu yang khas mewarnai keseruan acara pelantikan. Ada yang berbeda dari acara semalam, bukan masalah di sana aku menemukan sosok yang aku rindu selama beberapa bulan ini, melainkan suasana yang terbangun begitu hangat. 

Pangkat dan gelar hanya di bawa di atas panggung, namun di saat acara telah selesai, semuanya membaur menjadi satu. Berbaur seperti semut yang saling berdiskusi, membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan apa saja. Begitulah suasana hangat yang aku rasakan. Bahkan malam pun ikut tertawa di atas sana bersama bintang tersebab hangatnya malam itu.

Di sana, ada kamu Mafa. Sosok yang aku rindukan, tapi sudahlah lupakan saja. Kamu tetap menjadi batu di mataku. Terlepas tentangmu, aku bahagia malam itu sebab beberapa hari terakhir isi berita onlineku hanya tentang kerusuhan tanggal 4 November 2016. Kepalaku pusing dan sedikit gelisah melihat kabar berita yang agak buruk itu. Namun malam ini, semua hilang setelah nama Pelalawan menguasai malamku. Banyak hal yang aku rasakan lewat hati, bukan pikiran.

Bukan saatnya lagi berpongah diri sebab pangkat dan jabatan. Sudah saatnya kita bersatu sebagai sebuah bangsa tanpa melihat suku, ras dan apa pun itu perbedaan. Budaya, tarian, makanan kesukaan, agama, dan apa saja boleh berbeda, namun letakkan perbedaan itu untuk menambah varian keunikan bangsa ini, bukan justru menjadi alat pemecah. Salam persatuan.

Hangatkan lingkungan dengan persahabatan. Melalui kebersamaan dan berbondong-bondong dalam kebaikan, bangsa ini akan perlahan maju.

Selamat kepada Roma Idrawan dan tim acara semalam. Salam hormat dariku (Putri Tami).



Catatan : Penulis bukan seorang yang bijak dan dewasa, sehingga jika ada pemikiran yang kurang benar silahkan tinggalkan komentar untuk memperbaiki diri penulis menjadi lebih baik lagi)

Thursday, 27 October 2016

Cerita Dalam Kata-Kata



"Merayakan Duka Lara dengan Karya"-Putri T.


Buku Cerita Dalam Kata-Kata tidak dicetak banyak. Hanya untuk publikasi pribadi. Adanya buku itu sebab aku suka saja menulis tentang seseorang. Bagi kebanyakan manusia patah hati membuat terjatuh dan tenggelam lama, namun bagiku justru menjadi momen yang langka untuk bisa menulis panjang tentang kehidupan.

Buku Cerita Dalam Kata-Kata khusus aku persembahkan untuk seseorang. Mengapa aku memberikannya? aku tidak tahu. Jawabannya hanya sebab aku suka menulis dan terkumpullah banyak tulisan di catatanku, yang jika aku kumpulkan bisa menjadi sebuah buku.

Terlepas dari bagaimana kata kebanyakan orang di luar sana tentang diriku yang sering menulis galau, namun bagiku banyak berkah di balik galauku. Aku bisa terus bergerak maju dan mengumpulkan banyak semangat.

Di lain tulisan aku sudah menceritakan bagaimana banyaknya makna positif di balik sebuah kata terjatuh. Maka biarkanlah keterjatuhanku membuatku terus berkarya. Tidak akan aku pedulikan kata mereka bagaimana.

Untuk yang ingin memiliki buku ini secara gratis dapat mengirimkan pesan ke email rputritami01@gmail.com.

Mengapa saya berikan secara gratis? tidak ada jawaban yang khusus, hanya saya ingin berbagi saja melalui tulisan.

Wr : Putri T.

Friday, 9 September 2016

Jalan Mana Lagi?




Dinding-dinding itu diam, menemaniku yang sejak tadi tidak mampu sedikitpun bergumam. Rasa itu terlalu kuat tergenggam, hingga hati dan kesunyian terus bersautan.

Jalan mana lagi yang harus aku coba temput untuk mencapainya, jalan baik yang seperti apa lagi yang mesti aku coba langkahi agar sampai pada namanya kebaikan. Kebaikan yang Tuhan Kabulkan akibat dari doa-doaku. Aku ingin sekali, doa itu tidak terkabul setengah-setengah, namun seluruhnya, utuh melengkapi kebahagiaan.
Rasanya, kebahagiaan saat itu hanya semu, yang sekejap datang lalu Tuhan menjatuhkanku lagi. Atau ilusiku kah yang terlalu kejam berharap. Barangkali benar, bahwa ilusiku yang terlalu berlebihan. Lalu, harus seperti apa lagi diriku? apakah harus menyudai jalan ini, yang terlihat begitu berliku, namun sudah sejauh ini, atau kah mencari jalan lain yang aku juga tak paham apakah itu baik atau tiddak.

Aku hanya bisa terus bergerak maju, sedikit dan sangat perlahan sekali.


Writer : Putri Tami.

Monday, 5 September 2016

Tertawakan saja Sepi yang Mengoyak.

                                       Mampus Kau dikoyak koyak sepi - Chairil Anwar








                            Foto Boneka tangan Tikus milik rekan kerjaku. Fotografer by : Denny.


Mampus, benar saja kata itu mewakili rasa hati yang terkoyak moyak sepi. Jika Chairil Anwar sesungguhnya mengatakan kemerdekaan yang sedang sendiri dikoyak moyak sepi, maka biarkan aku berbicara soal murni hati dan kehidupan yang setengah hidup dikoyak moyak sepi.



Rongga paruku kembang kempis, menahan lara yang tiada terkira. Sakit itu menarik dadaku hingga dalam merasakan duka. Tak mampu berkata lagi kecuali airmata di tengah gelap buta. Airmata untuk sebuah kehilangan. Airmata untuk sebuah luka. Dan airmata untuk sebuah kata terima, tiada daya untuk bangkit dan mengambilnya kembali, sebab Tuhan menakdirkan demikian.

Tuhan, jangan bunuh aku dengan kesepian ini. jangan tuduh aku atas doa yang berlebihan itu. Aku hanya tahu berdoa dan memohon padamu, tiada yang lain. Maka jangan kutuk diriku untuk lama berteman dengan kesepian ini. Aku lelah selalu dibuntutinya. Ke mana akan mengadu selain padaMU, sedang manusia sudah memiliki jatah masalah sendiri-sendiri. Sedang manusia di luar sana sudah terlalu banyak berkata-kata, kata Seno demikian. Bahkan kadang kata-katanya sendiri tiada didengarkan. Maka semua kembali kepada doa yang di dalamnya ampuh. Dengan diam banyak keajaiban muncul.

....................

Aku tidak bisa menyelesaikan tulisan ini. Dan banyak sekali rekan yang bertanya mengapa aku menulis sangat menggantuk. Seperti tiada akhir. tidak jelas. Maka biarkan aku bertanya, kapan terakhir kali rencana yang dibuat sudah terwujud? jawabannya tidak tahu. Atau justru cerita tersebut tiada akhir penyelesaian. Maka demikian dengan ceritaku. Ceritaku adalah cerita realitas yang hanya tumpukan masalah tanpa solusi. Hanya ingin bercerita saja, tanpa ingin memberikan solusi. Sebab, aku sendiri saja belum menemukan solusi untuk meniadakan sepi ini, atau setidaknya mengurangi rasa duka lara kehilangan yang menyakitkan.

Writer : Putri Tami



Saturday, 3 September 2016

Sebab Orang Bisa Sukses dalam Usia Muda

                                     Foto Malam Minggu saat Bekerja di Kantor Pribadi



Di mulai dengan menanyakan diri sendiri tentang sukses seperti apa yang ingin di capai? sebab setiap orang memiliki pemaknaan suksesnya sendiri-sendiri, ada yang mengatakan sukses adalah kaya, ada juga yang mengatakan sukses disaat bahagia tanpa harus sering bekerja keras, ya semuanya sah saja, karena setiap orang memiliki pandangan sukses sendiri.

Kebanyakan orang yang sukses di usia muda adalah mereka yang bekerja keras. Bukan mereka-mereka yang malas, sering hura-hura dan banyak melakukan kegiatan yang tidak manfaat. Baiklah, saya akan membagikan beberapa hal yang saya tahu untuk membantu menuju sukses, tapi ingat, sukses di sini adalah versi saya sendiri:

1. Jangan Lupakan Membaca.
Apa, membaca? apa hubungannya dengan membaca? saya melihat dan banyak mendengarkan bahwa orang berjiwa besar dan sukses tak lepas dari namanya membaca. Membaca di sini bisa membaca apa saja, buku, peluang, situasi, dan membaca apa saja yang membuat diri terus semangat, tidak mudah cepat putus asa, juga membaca memperbanyak pengetahuan yang sangat membantu menuju apa yang di cita-citakan.

2. Jangan Membuang Waktu untuk Kegiatan tidak Manfaat.
Banyak orang bilang slagi muda nikmati waktu yang ada. Menurut pengamatan, justru hal tersebut salah, kebanyakan mereka yang sukses di usia muda adalah mereka yang memanfaatkan waktunya di usia muda untuk bekerja keras dan melakukan hal-hal yang manfaat.
Ya, jangan salah lagi untuk mengatakan usia muda usia yang digunakan untuk main-main, kalau bisa sih usia muda digunakan untuk bekerja keras, agak nanti di umur yang tidak terlalu tua bisa merasakan kebebasan diri dan finansial, bukankah itu yang diinginkan? sukses di usia muda, so jangan buang-buang waktu lagi.

3. Jangan terlalu banyak Berlibur.
Berlibur bisa membuat otak fresh, begitu kata kebanyakan orang. Iya memang betul, namun jika berlibur terus kapan bekerja kerasnya? yang ada hasil kerja keras sebulan habis dalam waktu sehari hanya untuk berlibur. Jangan gunakan paradigma yang salah. Kebanyakan orang yang sukses di usia muda adalah mereka yang pandai mengatur waktu dan memiliki waktu berlibur terstruktur.

4. Manajemen Aset.
sebagai orang akuntansi, sangat paham sekali manfaat manajemen aset untuk amsa depan. Manajemen aset di sini adalah jangan terlalu banyak belanja hal yang tidak penting. Apalagi di awal gajian (bagi yang sudah bekerja), biasanya langsung memborong banyak belanjaan. Boleh saja, tapi ingat ya bekerja bukan untuk membahagiaan detik ini, tapi masih ada perjalanan panjang ke depan. Intinya, pandai-pandai memanajemen aset yang ada, kalau bisa udahakan nabung terlebih dahulu, beru jika ada sisa untuk belanja seperlunya saja, apa-apa yang berlebihan tidak baik.

5. Selalu semangat.
Lelah, patas semangat, dan hampir menyerah jika memperjuangkan sesuatu pasti ada, bahkan sering dialami jika dalam masa sulit. Nah, untuk mengatasinya ingat bahwa selalu selesaikan perjalanan yang sudah di mulai, boleh sejenak berhenti untuk istirahat, kemudian lanjutkan lagi. Jangan menyerah sebelum sampai.





                              Foto saat Hari Sabtu Siang masih Bekerja, Ngantuk dan alhasil Ngopi Dulu.



6. Jangan Pedulikan kata Orang yang Negatif.
Sering sekali di saat sudah memulai sesuatu, cibiran orang banyak sekali datang. Maka hiraukan saja, jangan berhenti, sebab hanya diri kita yang tau ke mana tujuan kaki bergerak, bukan mereka, toh nanti kalau sudah berhasil mereka akan melihat apa yang dahulu kita perbuat. Sering sekali justru saat kita sudah sukses mereka merengek-rengek untuk meminta ajari cara untuk sukses.
Tenang saja, jangan ambil pusing apa yang dikatakan orang, tutup telinga untuk hal-hal negatif. Hanya perlu bergerak maju terus.
Biarkan mereka berkata kita sekarang bekerja terlalu keras, dan suatu saat kita akan bilang mereka yang terlalu malas.




Writer : Putri Tami

Saturday, 27 August 2016

Keajaiban Tuhan.



Berangkat dari sebuah kisah nyata tentang perjuangan anak mungil berusia 10 tahun untuk membunuh penyakitnya, dan bisa tegap berdiri dengan senyum manisnya. Ya, kesembuhannya tidak lepas dari sebuah keajaiban yang Tuhan kirim untuk bocah kecil ini. Tuhan memang ada di mana-mana, baik di dekat yang percaya atau tidak. Tuhan maha pengasih.

Dari cerita seorang bocah, aku menilik tapak tilas perjalananku ke belakang. Banyak sekali jejak yang aku ukir hingga kini, dan kebanyakan adalah jejak baik. Aku tidak tahu mengapa Tuhan memuatku seperti ini, pasti Tuhan memiliki alasan tersendiri.

Banyak perjalanan yang aku lewati dengan bahagia. Setiap momen perjalanan, suka dan banyak derita selama ini masih lekat di dalam sebuah waktu bernama kenangan. Aku, malam ini duduk dengan ditemani kopi dan musik, menikmati dunia dengan hasil kerjaku sendiri. Rasanya hingga detik ini Tuhan memberiku keajaiban yang luarbiasa.
Banyak yang tidak ingin bekerja di tempatku sekarang berada, alasannya adalah gaji yang kecil. Tapi, jauh dan jauh hari sebelum aku bekerja aku telah memahami bahwa aku masih butuh dari sekedar namanya gaji, ada hal yang harus aku pelajari, yaitu ilmu.
Di tempat kerjaku sekarang, aku bisa keliling Indonesia dengan gratis, sembari berbagi ilmu dan bertemu banyak orang. Dahulu aku bermimpi keliling Indonesia, dan kini Tuhan menjawab doa-doaku. Bahkan karunianya lebih dari sekedar yang aku minta.
Di tempat kerjaku ini, aku bebas belajar banyak hal, aku diajarkan hal-hal yang orang lain tidak paham arti penting hal lain selain gaji. Ya, aku bisa saja bekerja di tempat yang bergaji tinggi, tapi aku tidak bisa mendapatkan banyak ilmu.
Pada dasarnya, setiap manusia memiliki tujuan yang berbeda-beda, dan biarlah aku dengan tujuanku.


Teman kerja yang baik juga adalah karunia Tuhan. Foto di atas adalah foto ketika aku dan tim kerjaku mampir di sebuah rumah makan di Garut. Kami melakukan perjalanan panjang selama 6 hari. Berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu hotel ke hotel lain, dan dari satu instansi ke instansi lain. Benar-benar pekeraan yang selama ini aku impikan.


Terimakasih Bapak Tito (berbaju kuning sedang melakukan chek in hotel di Bandung). Terimakasih sudah menjadi pak bos yang kece dan lucu. Seumur-umur tidak membayangkan akan mendapatkan atasan yang lucu tapi profesional. Tahu momen kapan bercanda dan serius.
Terimakasih Mas Andy, yang sudah selalu diam jika aku rewel soal sistem yang lama dan lain-lainnya. Sudah banyak aku repotkan. Ternyata, jika di tulis, banyak sekali karunia Tuhan yang sudah aku nikmati dan lewati.

Foto di RSUD Kajen ketika Pelatihan RBA dan SAK BLUD.
Biar aku beritahu, inilah pkerjaanku yang mengharuskan aku ke mana-mana. Aku membantu Konsultan dalam melakukan pelatihannya. Membantu apa yang aku bisa. Bertemu banyak sekali orang-orang yang luarbiasa.


Writer : Putri Tami

Sunday, 21 August 2016

Pesan Tuhan




Lama Sudah buku itu ada, bahkan sekarang sudah lenya, tidak tersisa untuk diperjual belikan. Buku itu bernama Pesan Tuhan, terbit 2014 lalu dari hasil kerja keras FMPP UMY. Ya, FMPP UMY adalah sebuah organisasi kampus yang  berfokus diri pada dunia sastra. Kecil memang, bahkan baru dua tahun berdiri.

Pesan Tuhan, mengapa itu judulnya? ya, aku kira kehidupan di dunia ini adalah untukmemahami pesan Tuhan. Toh, kelak akan selamanya kita bertemu Tuhan di alam lain. Di dunia, tidak bisa terpishakan dari namanya pesan Tuhan. ya, pesan Tuhan ada di mana-mana. Bahkan, dalam setiap luka dan kegagalan Tuhan selalu menitipkan pesannya, bahkan kadang aku sendiri saja gagal memahami Pesan Tuhan yang sebenarnya mudah dan gampang di cerna.

Layaknya kehidupan, aku kini giat sekali menuliskan banyak hal, namun aku belum mengerti akan menjadi penulis yang bagaimana nantinya, aku hanya menjalani ke mana hatiku membawa. Iya, aku selalu mendengarkan kata hatiku.

Kalau aku mengingat perjuangan di balik sebuah buku, ada banyak proses kesabaran yang harus dijalankan, bahkan aku banyak mengalami kesalahan dalam menerbitkan buku itu. Ya, aku dahulu masih sangat egois terhadap segalanya, tapi sudah, itu menjadi pengalaman berhargaku untuk tidak lagi keras kepala, apa-apa wajib menjadi apa yang aku inginkan. Tidak, tidak demikian. Kadang ada hal yang wajib hati ini luruh untuk kepentingan umum.

apa pun kenangan dahulu, kini aku berterimakasih dengan FMPP UMY yang sudah pernah ada dan hidup hingga kini. Terimakasih Yutika, Dedina, dan Ori Diska. Kalian para pejuang yang selalu gerak nyata walau kecil.



Writer : Putri Tami 

Sunday, 7 August 2016

Bersama, Mewujudkan Mimpi (Anak Kolong Langit)




Kemarin adalah hari yang memang sangat aku bilang ribet sekali. Pagi-pagi sekali aku sudah ribut memilih kostum untuk berfoto bersama mereka, anak kolong langit. Sudah begitu, ada satu temanku, Zahwan yang datang sangat terlambat. Hampir dua jam kami menunggunya.

Ya, kemarin (7 Agustus 2016), kami anak kolong langit ingin mengabadikan momen bersama di dalam ruangan. Personil kami kurang satu, dia Ali Mufti. masih sibuk di kampungnya. Sibuk bekerja dan asik sendiri. Jadilah kami hanya bersepuluh saja.

Kemarin, adalah doa bahwa kami ingin bersama mewujudkan mimpi. bersama dalam artian bukan kami selalu bersama-sama mewujudkan mimpi. Namun, bersama dalam artian kami saling mendukung masing-masing dengan mimpinya. selalu berdoa semuanya bisa mencapai mimpi masing-masing.

kemarin kami baru berbaris rapi dengan pakaian rapi. Umo, Aku, Ryan, Handan dan Oyong sudah mendapatkan gelar sarjana, yang lainnya Bismillah akan menyusul esok Oktober. Bahagia rasanya kemarin. Bukan sebab apa-apa, namun ditilik dari perjalanan persahabatan kami yang tidak jelas, sering keluyuran, kadang sulit sekali bertemu, atau pertengkaran yang terjadi antara kami masing-masing, atau aku sering sekali menjadi anak kecil yang cepat marah, pun persahabatan kami jarang sekali bertemu, namun hingga kini, Alhamdulillah kami masih mengingat satu sama lain, bahwa persahabatan tidak selalu bersama ada di samping, yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengingat teman di dalam waktu yang padat.

Dahulu, waktu kami sangat padat untuk organisasi, kuliah dan juga diskusi kusir yang tiada akhir. Terlepas dari dahulu, dan kseibukan dulu, kini kami akan melanjutkan hidup lainnya lagi. Yang sudah wisuda tentu akan terbang bersama sayapnya, mengarungi kehidupan lainnya untuk sebuah kata sukses, yang belum wisuda tentu akan mengejar kata wisuda dan kemudian melanjutkan juga kehidupannya. Semua punya kehidupan amsing-masing, toh memang Yogya hanya tempat transit. Transit berhenti sejenak, meneguk ilmu, makan banyak pengetahuan dan pengalaman, dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi, dengan kereta masing-masing.


Sejauh apa pun, dan di mana pun kalian, tidak meruntuhkan laskar anak kolong langit. Selama langit masih berdiri kokoh, pun mimpi masih tegak berdiri, selama itu akan ada semangat pun akan mengingat.
Kami adalah laskar anak kolong langit. Berawal dari mimpi, berakhir dengan bukti.




 Writer : Putri Tami







Friday, 5 August 2016

Bisakah hati berkompromi?





Kemarin siang, aku terperangah mendengarmu berbicara soal perempuan, setauku selama ini kamu tidak sedikitpun membicarakan perempuan dan lebih sering melucu banyak hal. berbulan-bulan aku bekerja sekantor denganmu, dan hanya banyol kekonyolan yang kamu lontarkan. Dan kemarin siang adalah kemarin yang sejuk, aku mendengarmu menginginkan seorang perempuan. Dalam hati hanya bisa membatin tanpa bisa membalas perkataanmu, sebab engkau sedang berbicara dengan seniormu. aku bisa apa selain mendengarmu aja, dan menulismu di sini.

Perjalanan ku dalam hal cinta selalu berakhir dengan lara, dan bermula dari menyukai. Aku takut jika saja kekonyolanmu di kantor selama ini membuatku banyak tertawa dan akhir-akhirnya aku hanya akan kesepian jika tanpa lawakanmu, dan lama kelamaan aku memintamu ada. Akan ada kekhawatiran yang lebih jauh lagi. Setidaknya aku ingin belajar dari pengalaman untuk tidak ulai menyukai seseorang yang membuatku bahagia.

Aku ingin fokus setahun ini dengan membangun mimpiku dalam dunia menulis, bahkan pekerjaanku sekarang hanya untuk menyambung nyawa diperantauan agar aku bisa dekat dengan buku. Aku hanya tidak ingin jatuh cinta dahulu, aku ingin jatuh pada mimpiku dan berjalan menaikinya. Bisakah hati sekali ini berkompromi dengan pikiranku?

(catatan: foto di atas tidak ada hubungannya dengan ceritaku di pagi ini. Dia hanya anak-anak yang lucu, menggemaskan dan aku suka. Kan apa-apa tidak harus berhubungan.)



Writer : Putri Tami 

Friday, 3 June 2016

kepada Jalanan

biar di jalan-jalan aku adukan segala kerumitan hati,
biar di keremangan lampu tepi jalan aku adukan redupnya jiwa yang kaya lara,
biar juga aku sembuyikan tangis di bawah gelap malam hingga malam pun tiada mengerti.

bilamana masanya tiba, akan aku adukan segalanya padamu,
entah kamu siapa dan di mana.
dalam kemelut yang seperti apa,

biar aku samakan deritaku kini bersama nenek yang diam tertegun di emeran toko,
menunggu pagi menyulam rejeki,
biar juga kini berjalan seperti jalan yang ada, biarkan lelahku berumah dalam damai,

Writer : Putri Tami

Monday, 23 May 2016

Memecah Budaya Pasif, Mengembalikan Kreativitas Anak (SALAM)



Orang pandai makin banyak jumlahnya//Tapi kok hidup makin susah saja//Majunya zaman sangat mengagumkan//Tetapi derita malang melintang//Toga bukan lambang kedewasaan//Pecis tak menandakan keshalehan//Terkenal tidak berarti pakar//Pakar tidak mestijiwanya berakar//Gedungnya tinggi kelakuannya rendah//Hartanya mewah pribadi bubrah//Bukunya bertumpuk jiwa tak matang//Para pemimpin kerjanya menyusahkan//Memusingkan,, merepotkan,, menjengkelkan.... (Lyrik Oleh Cak Nun).

lyrik di atas hanya sebagai pembukaan saja, sebab dekimian relitas saat ini. Fokus saya pagi ini bukan bercerita soal apalah itu kebobrokkan demokrasi atau sarapan berita tidak mutu, namun saya akan menceritakan sedikit soal jalan-jalan sederhana saya selama dua hari (23-24 Mei 2016) ke sebuah sekolah "Sanggar Anak Alam (SALAM) yang memiliki alamat di Rt 04, Jl Nitriprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.


             Hari itu Minggu yang sepi di dalam dunia saya, sebab saya tidak begitu suka kebisingan yang memusingkan. Minggu itu saya mengajak sahabat saya, Ika.F untuk ke SALAM. Sebuah sekolah yang tidak pernah sedikitpun ada di dalam pemikiran saya tapi toh nyata adanya. Jangan heran kalau nanti ada yang berkunjung ke SALAM bingung memarkirkan kendaraannya. Kedaraan di parkirkan ke dalam gang yang khusus untuk parkir, sedangkan jika ingin masuk ke SALAM, kita secara tidak langsung diminta untuk berjalan sekitar beberapa meter lagi. Ya, hitung-hitung membiasakan berjalan walau beberapa meter kan ya?

          Foto yang ada di paling atas adalah foto jalan masuk menuju sekolah SALAM. Jalannya melewati hamparan sawah yang hijau, udara paginya sangat menyegarkan jiwa dan pemikiran, kebetulan pada saat saya ke sana sawah baru selesai panen, jadi hanya ada hamparan lahan tanah berpetak dengan genangan air, ingin rasanya saya ikut bapak-bapak membajak sawah, namun saya urungkan sebab sahabat saya, Ika .F tidak mau dan memilih untuk melanutkan ke SALAM. Jalan menuju sekolah SALAM hanya setapak, bahkan jika berpapasan dengan orang lain yang berbeda arah, kita harus mengalah. Belum apa-apa, sudah banyak sekali pelajaran yang saya ambil. Dari mulai sekolah SALAM yang tenang tanpa bising kendaraan, juga jalan setapak yang mengajarkan banyak kesederhanaan dan kepekaan.

Nah, beginilah sekolah SALAM dari tampak depan. Unik kan? beda sekali dengan sekolahan yang kita lihat kebanyakan. Sekolah dengan gedung tinggi, sempit dan sangat mengotak-ngotakkan diri, padahal di SALAM ini hanya ada batas imajinasi yang menjadi batas diri, bukan langit, bukan gedung,bukan juga pagar yang seperti penjara.

          Hari pertama saya datang ke SALAM, sangat sepi karena hari Minggu juga SALAM istirahat dari kegiatan biasanya. Ya akhirnya saya dan Ika hanya bermain prosotan seperti anak-anak. Ya, betapa indahnya masa anak-anak di SALAM ini, tidak seperti masa anak-anak ketika saya dahulu yang hanya tahu ruang kelas dengan dinding bisu dan tuli, ya dinding itu tuli tidak mendengarkan keresahan saya bahwa saya sebagai siswi yang jenuh, bosan, penat dan sungguh lelah ada di dalam kelas. Kalau saja waktu itu pemikiran saya sudah seperti ini, barangkali saya tidak mau sekolah, namun waktu itu saya hanyalah anak-anak dengan segala ketakutannya. Pendidikan di masa saya anak-anak membuat saya takut, jika tidak sekolah saya tidak bisa mewujudkan cita-cita saya, namun setelah sekarang memahami, sekolah tidak menjamin apa-apa.
 SALAM juga memiliki keunikan tersendiri, di sini para siswa bebas memanggil mentor mereka dengan sebutan apa saja, kakak, Mama, Bunda, Ibu, Kakak dan apa saja yang membuat siswa merasa ini adalah rumah untuk belajar.


            Dua foto di atas adalah foto anak-anak sekolah SD. Di SALAM ini kalau tidak salah ada hingga tingkay SMP, dan kebetulan saya hanya memotret anak SD nya saja. Loh kok anak sekolah tidak memakai seragam? itulah kreatifnya SALAM, mereka berpikiran bahwa pendidikan bukan menciptakan mesin atau robot yang wajib sama. Di SALAM kebebasan dan kreativitas anak dibebaskan. Yang paling penting adalah di sini para fasilitator menyayangi anak-anak ini. Sesuai buku yang saya baca dengan judul "Sekolah Biasa Saja," ditulis oleh Toto Rahardjo yang juga salah satu pelopor SALAM, juga suami dari Bu Wahya sebagai pemilik sekolah SALAM ini, menurut buku tersebut bahwa kasih sayang di dunia pendidikan sekarang mulai berangsur lenyap, padahal pendidikan saat ini masih membutuhkan rasa kasih sayang namun pada kenyataannya justru kasih sayang hilang berganti dengan banyaknya tuntutan yang dibalut dalam alasan kemandirian dan kedisiplinan.
Masalah disiplin jangan diragukan lagi, saat saya datang di hari kedua (Senin, 23 Mei 2016), saya menemui anak-anak ini disiplin sekali. Saat bel tanda untuk berlajar bersama di dalam gubuk berbunyi, langsung saja tanpa aba-aba anak ini masuk dengan semangat, berbeda sekali jika di sekolah pada umumnya, jika ada bel masuk berbunyi justru anak-anaknya terlihat malas. Sudah lama saya hanya menemukan anak-anak dengan wajah tertekuk, takut dan terbebani dengan namanya sekolah. Di SALAM tidak, justru anak-anak berlarian riang gembira laiknya anak-anak yang bahagia sekali. Di mana lagi saya bisa melihat anak-anak bergembira riang dan bahagia saat sekolah? di SALAM ini. SALAM menawarkan sesuatu yang berbeda.
Saat Jam makan siang, mereka semua makan bersama-sama sesuai dengan kelasnya masing-masing, terasa sekali suasana rumah di SALAM ini. Setelah makan, anak-anak langsung mencuci peralatan makan mereka sendiri. Lebih disiplin mana dengan kita yang sudah besar ini yang kadang setelah makan malas sekali membuang sampahnya, iya kan?


          SALAM bukan sekolah yang tertutup, sudah dikatakan di awal, bahwa imajinasi menjadi batas sekolah ini. Dan foto di atas adalah ruang sekolah anak SMP. Ruang yang berasal dari bambu itu adalah bantuan dari Australia, saya tidak paham betul siapa, namun dari negara Australia, itu saja yang saya ingat. Unikkan? semua kembali pada kesederhanaan dan keluhuran jiwa. Untuk apa gedung tinggi, fasilitas lengkap dan mewah namun hanya membuat manusia berpongah diri, lupa dari mana asal dan tujuan hidup? SALAM sudah memiliki siswa seratus lebih dengan banyak fasilitator. Para fasilitator yang begitu istimewa di mata saya, mereka ramah sekali, walau saya baru saja bertemu sekali dengan mereka, namun senyum-senyum indah itu mengembang dengan tulus. Saya merasa betah di sini, bahkan hingga enggan pulang sampai SALAM ini sepi, hanya ada gubuk sekolah yang bisu karena anak-anaknya sudah pulang. Hanya ada pepohonan di sana-sini biasa tempat anak bermain, atau justru memanjatinya. Ada hamparan sawah yang luas menjadi saya lebih merasakan menjadi diri saya sendiri tanpa ilusi dan ambisi yang berlebihan. Saya butuh ketenangan di tengah hiruk pikuk manusia yang mengaku mencari rezeki, tapi rezeki yang seperti apa jika hidup sudah lebih dari sekedar punya segalanya?

     Dari buku "Sekolah Biasa Saja" dapat saya rangkum bahwa Sekolah harusnya memecah kebisuan yang sudah lama terjadi di negeri ini//Sekolah seharusnya bagai taman bermain, dahulu gagasan ini pernah juga ditulis oleh Ki Hajar Dewantara//Sekolah bukan perusahaan yang menciptakan manusia berjiwa robot//Pendidikan adalah dasar dan Rakyat, bukan justru menciptakan tenaga kerja yang tunduk terhadap korporasi//Sekolah bukan juga tempat mencetak batu bata yang wajib sama rata dalam rupa, tingkah, laku, dan pemikiran, seharusnya keberagaman diri dibebaskan untuk menemukan potensi diri dengan tetap berjiwa manusia//Sekolah bukan kompetisi, bukan main unggul-unggullan, bahkan di SALAM ini tidak membutuhkan akreditasi, karena SALAM yakin pendidikan bukan mainan untuk dikompetisikan"

(Mau info lanjut, monggo hubungi mas Yudhis saja : 0856-4690-9594) 


Writer : Putri Tami 

Thursday, 19 May 2016

Teman Temen



Untuk Para Sahabatku
(Terkhusus Rizky Amalia: Selamat Ulang Tahun, Kawan)



Sepi sekali pagi ini. Ruang-ruang kamar memayat dalam sunyi. Embun tadi subuh masih betasbih di dedaunan basah. Sepagi itu aku bangun dan merasakan hampanya kehidupan. Tidak ada foto-foto sahabat di kamar atau pun foto siapa saja. Kamarku tampak seperti kuburan. Hanya ada dinding-dinding tuli dan sunyi.
                Teringat masa silam. Masa-masa aku dilimpahi banyak waktu bersama mereka, para sahabat yang begitu menyenangkan. Tidak pernah berpikir bahwa kini akan begitu sepinya dalam dunia ini. Mengisolasi diri dari kehidupan luar saat ini adalah hal baik menurutku, dan lebih fokus terhadap karya. Karya apa saja yang aku bisa aku lakukan, sebab lama-lama berada di dunia luar sana membuatku gila. Manusia semakin gila, sahabat.
                Apa kabar kalian? Dean, Kiki, Zahra, Fitri, Veby, Lolita, Nilam, Trias, Taufik, anak kolong langit, Wida, Ririn dan semua yang aku barangkali di pagi ini lupa. Bagaimana kehidupan kalian saat ini? masihkan lancar atau bahkan sama sekali tidak sama dengan harapan ketika kita duduk di kursi kuliah? atau justru melebihi harapan kalian? Jika ia maka selamatlah kalian, sebab aku masih terkatung-katung dalam perahu kecil di tengah laut. Dayungku hampir rusak. Aku harus sekuat tenaga bangkit, mendayung hingga ketepian untuk selamat.
                Bagaimana cara kalian melewati hari-hari yang begitu keras? Kalian para sahabat yang hebat. Sahabat yang tidak selalu ada, tapi akan selalu kukenang. Begitulah caraku hidup. Aku dan kalian tidak pernah selalu ada. Bahkan berkali-kali dalam setiap aku menulis caraku bersahabat bukan ke mana-mana melulu selalu ada. Aku memiliki cara tersendiri untuk mengenang kalian. Di dalam ingatan, tulisan dan bahkan sesekali di dalam doaku. Doa saat aku rindu sahabat, doa yang tiada pernah berupa namun justru nyata di mata Tuhan. Bukankah begitu cara yang kita harapkan.
                Aku menulis apa sih ya ini? entahlah. Barangkali aku hanya ingin menulis sebuah ceita saja. Tentang kalian yang pagi ini aku ingat dan aku rindu. Aku mengingat betapa asiknya kita di dalam tawa-tawa konyol, menertawakan sesuatu yang kadang dengan tidak sadar kita menertawakan diri sendiri. Namun apapun itu, toh kita dahulu masih bodoh dengan kehidupan. Mahasiswa yang hanya tau kuliah, main, tugas dan tugas hingga akhirnya sekarang semua sibuk melanjutkan kehidupan. Melanjutkan menjadi apa saja yang kita inginkan saat ini. ada yang bekerja, melanjutkan s2, dan aku masih di sini tidak berkutik dengan buku dan tulisan.
Wahai sahabat-sahabat, aku tidak pandai mengucapkan kalimat sayang dan lain-lainnya. Namun yang pasti, mentari pagi ini mulai mengintip dengan cahaya cerahnya. Secerah semangat kalian. Mari tetap melanjutkan semangat yang dahulu ada, walau sesekali lelah bukankah itu wajar? Namun tetap, kita harus menjadi matahari yang bersinar, walau mendung atau apa pun tidak masalah. Ada waktunya kita untuk sembunyi. Selamat bersemangat pagi kawan.




Writer : Putri Tami