Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Monday, 25 December 2017

Wisata Modern di Alam Bukit Panguk, Dlingo, Bantul



Sudah lama saya tidak menulis, kali ini saya akan menulis akibat teringat sebuah janji. Janji dengan salah seorang pemilik warung yang ada di bukit Panguk, Dlingo, Bantul.

Wisata Yogyakarta memang banyak, bahkan kunjungannya menjadi teramai kedua setelah Bali. Tentu saya yang sudah lama tinggal di Yogyakarta merasakan hidup bagaikan liburan setiap hari. Menjadi warga Yogyakarta sama saja diberikan tiket liburan setiap hari. Dekat dengan kota, dekat dengan alam.

Kali ini saya akan menjelaskan Wisata yang barua da di tahun 2017 ini. Bukit Panguk Kediwung, Dlingo, Bantul.


kalau pagi itu awannya loh, menawan sekali bagi para pencari negeri di atas awan. Tapi jangan lupa pakai jaket ya, karena dingin sekali kalau pagi. 
per spot foto dikenai biaya, kalau dulu sih 3.000 per foto, kalau sekarang tidak tahu, karena spot fotonya semakin banyak.



 

Gambar di atas pemandangan sekitar pukul sebelas siang. Panas sih, tapi pemandangannya itu loh yang saya suka. Surga banget deh, ya karena saya juga sebagai Putri Tami yang suka menulis dan suka alam. Entah sudah berapa kali ke sana.
Jalanan menuju Bukit Panguk juga sudah bagus sekarang, tidak lagi bebatuan seperti beberapa waktu lalu. Sekarang jalanannya mulus. Rute ke Bukit Panguk sama dengan rute ke Hutan Pinus, Kebun Buah Mangunan dan juga Puncak Becici yang dahulu didatangi oleh Obama.
Banyak plang jalan menuju ke sana, anda tidak akan nyasar deh.




Itu juga menjadi salah satu spot foto yang saya datangi. Semua spot foto saya datangi sebab spot foto untuk saya semuanya adalah gratis. Y gratis, kan itu daerah kampug bibi saya, jadi saya bisa sesuka hati untuk foto, tapi sekarang tidak bisa lagi. Foto harus diburu-buru untuk gantian dengan yang akan foto lainnya.




suka bunga-bunga unik, ini juga salah satu spot fotonya. Masih banyak lagi sebenarnya, 
ada spot foto kuda di atas awan, negeri dongeng di atas awan dan beberapa lainnya lagi. Hanya saja tidak saya fotokan semuanya.

Yang terpenting dari sebuah perjalanan adalah kulinernya. Nah ini dia rekomendasi kuliner di Bukit Panguk. Ingkung ayam jawa. harganya tergantung dari seberapa besar dan kecil ayamnya. Dipatok mulai seratus ribu per ayam hingga beberapa ratus, tergantung ukuran ayam.




 

Friday, 2 June 2017

Senja Dua Sisi : Terang dan Gelap.



(di seberang sana masih ada terang, mari saling berpegang, kita jalani apa yang menghadang).


lama sudah aku tidak menulis, bahkan hampir lupa letak huruf-huruf di keyboar ini, hingga pesannya akhirnya mengingatkanku untuk bangun dari malas panjangku. Dia, yang begitu mendukung apa yang aku sukai, dan kali ini jemariku tergerak tersebab ia memberiku peringatan bahwa aku sudah lama tidak menghasilkan karya. selama ini aku begitu sibuk dengan kemalasan dan alasan yang tiada akhir. Banyaknya alasan membuatku tidak menulis apa pun, bahkan sekalimat pun tidak, padahal dahulu aku bisa setiap harinya menulis hingga berlembar-lembar.


Dia, yang begitu sederhana namun tidak ternilai harganya bagiku adalah sosok yang Tuhan kirimkan secara mendadak, pun aku masih ingat betul Tuhan mengirimkannya dengan permasalahan yang rumit, yang hampir membuatku menyerah. Namun akhirnya lelaki itu sekarang ada di sisiku, menemaniku dan menerima segala apa yang ada pada diriku.
Aku dan dia jarang sekali membahas masa lalu, hanya sesekali saja jika hal tersebut terlintas, selebihnya aku dan dia sering berbicara apa yang akan kami lakukan di kemudian hari. Rencana yang sederhana bersama manusia yang tidak sederhana. Dia begitu istimewa dengan segala tingkahnya. Aku suka melihatnya dengan hobinya. Hobinya memelihara ikan-ikan yang menurutku lucu. Aku cerewet sekali jika sudah dilihatkan peliharaannya. Begitu juga ia begitu menikmatiku ketika aku sedang berbelanja buku atau membaca buku. Kami saling memahami dunia masing-masing dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.


Aku suka sekali caranya menyayangi hewan-hewannya, menandakan ia lelaki yang lembut, dan itu terbukti dari caranya memperlakukan perempuan sepertiku, aku menjadi anak-anak yang sangat manja di dekatnya. Aku merasa terlindungi dan aku merasakan sesuatu yang tulus dari lelaki ini. Segala yang sederhana darinya membuatku bahagia, bahkan seringkali bibirku lelah tersenyum olehnya. Ia begitu tepat mengerti aku. Tidak, Tuhan begitu tepat mengirimkan lelaki ini untukku.


Baru saja aku lihat deretan bukuku, aku ingin menulis tentang cinta, namun di rak bukuku tidak ada buku tentang cinta. Lalu, bagaimana aku bisa mendeskripsikan rasaku ini? Barangkali dengan dirinya hadir, aku jadi memahami bagaimana rasanya tulus juga kasih itu sendiri. Tak perlu aku membaca buku, dia sudah mengajarkanku arti kesederhanaan dalam sebuah rasa. Rasa yang tak perlu mahal, hanya perlu saling memahami. Tuhan, aku begitu mencintai lelaki ini.


(senja itu memancarkan sisi terangmu, tapi juga menampakkan sisi gelapmu,
bukankah begitu adanya manusia: dua sisi)


Pesan untuk kalian yang sudah berkomitmen, merancang masa depan bersama adalah penting, sebab kata Ippho Santosa restu sepasang bidadari adalah utama. Sepasang bidadari itu adalah kedua orang tua dan pasangan kita. Jika sepasang bidadari sudah menyiapkan sayap, maka terbanglah kita. Tapi, aku masih belum jauh merancang masa depan dengannya, banyak hal yang belum aku bicarakan.


Siapa saja yang membaca pesan ini boleh berkomentar untukku yang sedang belajar bannyak hal untuk kehidupan baru. Aku masih buta kehidupan ke depannya, begitu kukira. Dan aku tidak ingin terus buta, aku ingin mencari tongkat atau pun lilin sebagai penerang dikemudian hari. Bisa jadi dari kalian yang membaca tulisan ini.





ini aku dan dia, yang Tuhan pertemukan secara antah barantah, dipersatukan dengan Tuhan yang terserah, dan berharap kehidupan di lain waktu yang cerah dan berkah.

Tulisan ini hanya untuk mengenang momen malam-malam saja dan agar jemariku mengenal huruf-huruf keyboard saja. Sebab sekali lagi, aku manusia yang bisa melupakan banyak hal, dan dengan tulisan aku bisa mengingat apa saja.. Termasuk waktu yang telah terlewati.

Thursday, 27 October 2016

Rayakan Luka Dengan Karya.




Rayakan Luka Dengan Karya.




Ada begitu banyak perjalanan hingga aku bisa berdiri di sini hari ini. Berdiri dengan karirku dan kebahagiaan yang diinginkan banyak perempuan di luaran sana. Aku berdiri dengan biayaku sendiri. Hasil dari keringatku sendiri. Siang aku bekerja di sebuah kantor yang meyenangkan, dan kebanyakan kerjaku adalah pergi ke luar kota. Bagi teman-temanku hal ini begitu menyenangkan. Aku mendapatkan hidup yang begitu beruntung. Namun bagiku tidak ada yang namanya beruntung, sebab keberuntungan itu aku ciptakan dengan kerja keras. Sedangkan malam harinya aku bekerja untuk diriku sendiri, menjadi penulis bebas.
                Ada banyak pertanyaan di luar sana yang terucapkan mengapa aku bisa hidup dengan beruntung sekali, dan bisa berbahagia setiap harinya. Maka aku hanya menjawab dengan sebuah senyuman yang tulus. Kebanyakan dari mereka yang bertanya tidak pernah benar-benar mengenalku dengan baik. Tidak mengenaliku secara dalam tentang ada apa dibalik kehidupanku yang bahagia ini. Tidak menyelidik ada apa di balik tawaku setiap pagi. Maka hanya pada tulisan ini aku ceritakan semuanya.
Begini memulai cerita. Jauh sebelum hari ini, aku hanyalah perempuan yang lugu dan polos dari sebuah desa yang terpencil dan jauh dari namanya keramaian kota. Nama kecamatanku Kerumutan, yang jika dilihat dari google maps hanya akan terlihat hutan saja. Begitulah tempat asalku. Aku jauh merantau hingga ke tanah Jawa ini sebab sebuah alasan. Aku ingin melupakan sakit hatiku yang begitu dalam pada cinta pertama. Tidak bisa dipungkiri, itulah awal mula aku bangkit membuat tangga kehidupanku di Yogyakarta ini.
Perjuangan melupakan cinta pertama tidak semudah melupakan sakit hati selanjutnya. Butuh tiga tahun untuk diriku menyibukkan diri dan hingga akhirnya aku mulai bisa berdiri dengan kuat. Selama tiga tahun aku menekuni dunia bisnis dan menulis. Melalui dua dunia itu aku curahkan segala daya, waktu dan pikiranku hingga akhirnya di akhir tahun ke tiga aku sadar, aku sudah bergerak maju dan jauh dari namanya sakit hati. Bagi kebanyakan manusia, sakit hati membuat terjatuh dalam kehancuran, namun bagiku, justru sakit hatilah yang membuatku bisa berlari saat itu hingga jauh ke depan.
Memasuki dunia perkuliahan aku pernah berjanji untuk tidak mengenal cinta lagi, sebab trauma tentang cinta pertama masih sangat berbekas luka di hati. Untuk merealisasikan janjiku, aku menyibukkan diri di bangku perkuliahan. Pagi hingga siang aku belajar di dalam kelas, lalu sore hingga malam pukul Sembilan aku bekerja menjadi guru pribadi di rumah-rumah orang kaya. Dan, malamku hingga pukul satu tengah malam adalah waktuku untuk mengerjakan tugas atau pun menulis naskah yang nantinya akan menjadi sebuah buku berjudul “Anak Kolong Langit.”
Tidak tanggung-tanggung karirku saat itu. Aku selalu meraih IPK 4 hingga semester empat, dan juga karir menulisku terus berjalan baik. Aku tidak pernah sadar bahwa jalanku sejauh itu tersebab luka hati yang aku manfaatkan dengan baik. Namun, aku kembali jatuh hati kepada seorang lelaki yang di mataku dia begitu sempurna. Sama pandainya denganku, sama semangatnya denganku dan juga memiliki pemikiran yang bagus. Satu tahun aku membuang waktuku untuk mengagumi lelaki itu, dan pada akhirnya dia hanya dimmiliki perempuan lain. Apa yang bisa aku lakukan saat itu selain bersedih?
Aku benar-benar terjatuh kala itu. Hampir dua bulan kuliahku berantakkan dan naskah bukuku terbengkalai. Aku mengalami kejatuhan yang dalam, sama dalamnye dengan cinta pertama. Ternyata patah hati sama rasanya, tidak peduli itu cinta ke berapa. Patah hati akan selalu sama rasa. Melelahkan dengan ribuan bulir airmata yang jatuh. Menyakitkan hati dengan dada sesak dan malam yang pekat membuat hidup sepi tersayat. Begitulah kira-kira kejatuhanku sebab cinta. Tidak ada yang mudah bila sudah berhubungan dengan luka hati kecuali bersedih.
Pada malam yang begitu menyedihkan, aku coba berkaca diri di cermin. Aku berkata pada diriku bahwa inilah konsekuensi dari berani jatuh hati. Lalu apa setelah patah hati? Akankah diam dan menangisi kegagalan cinta? Aku rasa tidak. Sebelumnya aku pernah mengalami demikian, dan aku mampu bangkit berlari, lalu apakah kali ini aku harus terus meratapi? Aku rasa tidak. Aku wajibkan untuk diriku bahwa di balik patah hati harus memiliki kegiatan yang positif. Biarkan luka itu ada, namun karirku harus tetap berjalan. Masa depan masih ada. Kehidupan tidak habis hari ini setelah patah hati. Maka bangkit dan bergeraklah pilihanku satu-satunya, walau dengan memapah luka dan lelah.
Setiap malam aku terus saja menulis dan berfokus pada tugas kuliahku, tentu aku juga suka berorganisasi. Semua akhirnya berjalan dengan baik, walau luka hati masih ada. Sering kali malam-malam aku berkendara seorang diri demi menjemput kebahagiaan yang ada di jalanan untuk aku bawa pulang dan menambah semangat diri. Tanpa aku sadari, luka hati keduaku membuat aku begitu produktif menulis. Sudah banyak buku antologi puisi yang aku ciptakan. Dan beberapa perlombaan pun sudah aku raih. Aku bisa begitu produktif menulis sebab ketika kebanyakan manusia sudah terlelap, aku masih saja berpikir dan berkarya. Dan di saat kebanyakan orang telah bangun dari tidur panjang, aku sudah lebih dahulu terbangun mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan.
Kebiasaan-kebiasaan itu menjadi sebuah rutinitas, padahal kebiasaan tersebut awalnya adalah untuk menyibukkan diri dan meninggalkan luka hati. Tanpa tersadari, suatu kebiasaan baik membuatku terus berkarya, hingga akhirnya aku bisa mendapatkan gelar sarjana dan mendapatkan predikat terbaik ke dua di jurusanku. Sesuatu yang bisa aku sebut membanggakan sebab aku peroleh dari hasil kerjaku sendiri. Tidak semua bisa duduk si posisi ke dua. Dan aku ada di sana waktu itu, menikmati kesuksesanku seorang diri. Berita baik yang ke dua adalah aku sudah bekerja sebelum lulus. Ada sebuah perusahaan yang ingin memperkerjakanku. Dan aku berpikir baiklah, aku akan mengambil kesempatan itu. Perusahaan itulah yang aku masuki hingga kini.
Beberapa bulan aku bekerja di perusahaan itu, aku sudah dikirim ke berbagai daerah untuk mendampingi senior konsultan untuk melakukan pelatihan. Namun, ada pengalaman yang paling menyakitkan bagiku saat itu. Aku jatuh hati lagi pada lelaki yang aku kira akan menjadi pendamping hidupku. Barangkali kebanyakan orang melihatku mudah jatuh hati, aku akui iya, namun aku jatuh hati bukan pada sembarang hati. Aku jatuh hati sebab Tuhan yang mengizinkannya. Dan kali ini aku terjatuh ke dalam lubang luka yang terparah sebab harapanku pada lelaki itu sudah begitu tinggi dan serius hingga pada bahasan pelaminan.
Malam ini, ketika catatan ini terbit aku masih diselimuti luka. Bagiku sudah biasa jatuh hati dan patah hati berkali-kali. Yang terpenting bagiku bukan soal patah hatinya, namun bagaimana bangkit setelah patah hati. Beginilah kehidupan. Ada sebab dan ada akibat. Aku sudah memikirkan itu. Aku harus menghadapi luka hati dengan berkarya. Bagi kebanyakan manusia melihatku kebanyakan patah hati, namun bagiku, patah hati membuatku terus bergerak maju.
Kita menjadi manusia yang dibebaskan untuk memilih. Begitu pun di saat hati terluka. Tidak mudah memang bangkit dan bergerak menjalankan sesuatu yang baik saat patah hati. Namun kembali lagi soal pilihan, akankah memilih diam dan meratapi luka akibat patah hati, atau bangkit membunuh patah hati dengan bergerak dan berkarya. Sampai kapan pun aku tidak akan memilih yang pertama, sebab pilihan bangkit adalah yang terbaik bagiku. Dan pilihan itu yang membuatku bisa selalu bahagia dan bersemangat setiap harinya. Semangat itulah yang teman-temanku selalu menanyakan aku dapatkan dari mana. Kini aku menjawabnya bahwa kebahagiaan adalah pilihan, terlepas dari beban yang ada di balik sebuah kebahagiaan. Biarkanlah beban lelah dan luka tersimpan untuk diriku sendiri.
Terakhir, bagiku masa muda wajar saja jika dilalui dengan hati yang gundah dan gelisah akibat cinta. Itulah fase kehidupan manusia yang wajar. Justru tidak wajar jika anak muda tidak pernah patah hati sekali pun. Namun kembali pada masa depan, bahwa kita hidup tidak untuk hari ini dan besok, melainkan ada lusa dan masa depan yang menanti. Semua kembali pada pemilik kehidupan, akan memilih jalan yang mana untuk hidup. Jika bisa untuk menjadi lebih baik setelah patah hati, mengapa memilih terjatuh dalam lembah luka dan sedih? Itulah sepenggal ceritaku yang selalu berusaha bangkit menjadi lebih baik setelah adanya luka hati.
Salam bahagia untuk para hati yang sedang terluka. Mari rayakan luka dengan karya. Bunuh kesedihan dengan raih masa depan. Sudahi berlama-lama dalam tangis, mari memilih tawa dan senyum di hadapan dunia.

Sunday, 21 August 2016

Engkaukah yang Rahasia itu?


(Kau boleh sebut ini gambar buah, atau pun gambar love yang sengaja aku miripkan gambar buah, yang pasti, di dalam gambar ada sebuah harapan.)


Mengapa awal tulisan ini aku beri gambar sebuah harapan? sebab di dalam harapan aku bisa untuk ada hingga kini dalam kuatku. Berharap tentang apa saja. Harapan tidak membatasi kita untuk melangkah, bahkan harapan yang membuat kita terus bergerak maju. Dan, termasuk berharap pada Tuhan menemukanku dengan yang masih rahasia.

Tuhan memang selalu memiliki caranya sendiri menemukanku dengan apa yang aku butuhkan. Seperti kejadian hari ini, 21 Agustus 2016. Entah aku terbawa dalam mimpi atau tidak, yang pasti aku berharap ini adalah sebuah kenyataan. Tuhan memanggil hatiku untuk mencoba bersamanya. Iya, dia yang tiba-tiba saja masuk dalam kehidupanku. Semoga ia pun bahagia.

Ada begitu banyak cerita di dunia ini yang ada akibat dari sebuah ketiba-tibaan, tanpa direncanakan. Salah satunya kisah tentang kita. Berangkat dari sebuah harapan, maka di sana akan ada cahaya yang terang. Tak perlu muluk-muluk, pertama aku butuh cahaya untuk terus menerangi jalanku menghilangkan gelapnya sunyia.


(Gambar kedua adalah cahaya. Aku ingin engkau menjadi cahaya, walau bukan cahaya yang silau gemilang, setidaknya mampu membawa harapku menuju jalan yang terang).

Banyak manusia berharap menemukan lampu yang terang, tapi bukankah untuk menuju itu perlu waktu dan proses. Aku sudah lelah dengan namanya kegelapan, kesunyian, kesendirian, kehampaan, dan menanti-nanti Tuhan membuka jalan rahasianya. Barangkali jika engkau adalah jalan rahasiaku, maka dengan hati terbuka aku mempersilahkanmu masuk. Bersama-sama menuju jalan yang terang dan bahagia yang sederhana. Ya, aku tidak ingin berbahagia yang berlebihan, sebab di dalam bahagia yang berlebihan, selalu ada tangis milik orang lain. Sedih secukupnya, pun bahagia demikian, pesan Nabi Muhammad.

Entah kebetulan atau tidak, tapi Tuhan membukakan rahasiaku tepat di hari engkau lahir, 22 Agustus 2016. Anggap saja aku benar, sebab aku sedang mengira-ngira tanggal lahirmu. Semoga aku bisa menjadi kado dari Tuhan untukmu.

Tidak, tidak kasih. Bukan bermaksud berlebihan menuliskan semuanya. Aku memang sejak dahulu suka menulis. Menulis setiap perjalanan yang aku anggap penting untuk dicatatkan, agar kelak jika ingatanku menua, masih ada tulisan untuk mengingatnya.

                                            ..............................Selamat hari lahir...................
Biarkan doa-doa yang aku panjatkan tertulis dalam suara saja, tidak di sini, sebab banyak rahasia yang harus aku doakan untukmu kepada Tuhan kita. Biarkan di sini aku memberimu ucapan selamat hari lahir saja.

                                     (Selamat hari lahir untukmu- 22 Agustus 2016, 00: 02 WIB)


Puisi Untukmu,

Debu-debu terbang menutupi dedaunan lagi,
tapi bukan daun di pohon hati,
Kegersangan pindah ke tanah lain,
Bukan tanah itu lagi: kesepian

Biar....
Biar aku catatkan namamu malam ini di dalam selembar cerita,
yang nanti akan menjadi berhalaman tebalnya,
tentang perjalanmu, aku dan petualangan kita,

Biar,,,
Biar semua rasa seperti air, mengalir tenang tanpa harus berombak yang berisik,
biarkan rasa memadu dengan alunan nada yang indah dan apik,
tanpa perlu diusik,

Tidurlah malam ini dengan tenang,
ada banyak doa terlantun untukmu, sayang.
Mimpilah,
sudah saatnya engkau berbaring menanggalkan lelah,
di sana akan ada malaikat yang melindungi,
Selamat Malam.

Banguntapan, 22 Agustus 2016.
Writer : Putri Tami

Saturday, 13 August 2016

Dari Balik Bilik Jendela

Perjalan yang jauh, pagi yang masih subuh, dan dedaunan yang masih basah, akhirnya aku terdampar di sini, di sebuah kamar yang cukup mewah bagiku. Di dalam gedung yang semua fasilitas ada , kebanyakan orang menamakannya adalah hotel. Dari balik hotel, aku melihat hamparan masyarakat dan pepohonan yang masih hijau. Selalu, aku mendapatkan kamar yang berada di lantai atas, jadilah aku bisa memandangi apa-apa yang ada di bawah. Seperti pagi ini, di Pekalongan, hari Minggu yang sepi dan lengang, kabut masih kuat berselimut, betapa manisnya pagi ini.

Dari satu perjalanan ke perjalanan lain, dari satu ruang ke ruang lainnya, hanya lewat jendela bisa aku nikmati pemandangan alam yang menghamar luas, seperti mimpiku yang masih luas belum terjangkau, maka dengan daya upaya aku harus menggenggamnya, setidaknya aku bisa mengontrolnya. Dari, waktu ke waktu, dari satu ruang ke ruang lain, hanya jendela yang selalu banyak menarik perhatianku setiap waktu, dari dalam jendela, miniatur lukisan alam bisa aku nikmati.

                                  (Dari balik jendela saat berada di sebuah gedung di Pekalongan)

Semalam tiada hujan, padahal sesekali aku berharap ada hujan yang turun saat aku berada dalam gedung yang tinggi, ingin aku menikmati aliran hujannya. Tapi, semalam di Pekalongan, rasanya aku disambut dengan megah, tanpa sengaja aku melihat pesta kembang api yang meletus berkali-kali dalam acara yang terselenggara di depan tempatku menginap. Megah rasanya. Tiada hujan, kembang api yang menghias langit pun cukup menghapus kecewaku. Lelah yang ada, seketika terobati oleh percikan cahaya di langit dari si kembang api.

Pukul sepuluh malam, tubuhku sudah berada di dalam selimut, lelah sekali malakukan perjalanan dari Yogya, ke Garut, Ke Brebes, Ke Bandung, ke Tegal, dan berakhir di sini, Pekalongan, dan bahkan di sini hanya dua malam, esok sudah ke Kajen lagi, pindah ruang lagi. Tak apa, selagi aku bisa berkeliling, maka akan aku lakukan. Katanya Pidi Baiq, yang tulisannya ada di dinding Bandung, ia bertitip pesan yang pada intinya libatkan perasaan dalam setiap perjalanan.

                            (Foto dari balik jendela, di Pekalongan, yang berbeda tempat)

Writer : Putri Tami

Friday, 12 August 2016

Petualangan Garut-Bandung yang Manis.

Pagi sekali, mentari tidak muncul dari balik kaca tempatku tidur semalam. Bukan sebab mentari tidak mau muncul, terlebih karena mendung sejak pagi malah enyah dari Bandung. Gerimis sudah ada sejak mataku bangun.

Ya, baiklah. Dari sini, di dalam hotel yang imut ini akan aku ceritakan lagi pertualanganku sejak kemarin, hingga aku terdampar ke Bandung. Kemarin pagi, aku sudah bercerita tentang Garut, di sana ada suatu kerjaan yang mengharuskanku bersama Tim hadir. Di Garut aku tidak lama, hanya mampir sekitar enam jam di Dinkes Garut, untuk membahas suatu kerjasama. Garut kota yang nyaman, pun bapak kepala Dinas Kesehatannya juga asik, seru. Aku jadi lebih bersemangat, katanya aku masih muda, tidak boleh sering putus asa, anggap saja jodoh yang belum datang sebab belum ada pria yang beruntung mendapatkan diriku. Ya suatu pemikiran yang positif.

Pukul empat sore, aku sempat singgah di sebuah rumah makan yang cukup bagus untuk merehatkan badan yang pastinya lelah. 11 jam di dalam mobil bukan perkara enak. Jadilah di rumah makan ini kami istirat, sembari beroforo riang, juga menikmati air danau yang tenang. Rumah makan ini namanya Rumah Makan Pak Asep. Banyak menu strowbery di sana, namun aku justru memesan wedang bajigur sebagai menuku. Ingin saja memesan itu.
                                   (Foto di Rumah Makan Pak Asep bersama Tim Kerja)

                            (Fotoku yang sedang tersenyum menikmati danau, juga canda gurau tim kerjaku)


Dari rumah makan ini, aku melanjutkan perjalanan ke Bandung bersama Tim. Ke Bandung bukanlah tujuan, namun kami bingung ingin ke mana, jika pulang ke Yogya, maka akan lelah, karena esoknya kami sudah harus berangkat ke Pekalongan, jadilah kami menikmati kota Malam Bandung saja, ke Alun-alun Bandung. Biasanya aku bisa melihat di teve tentang masjid agung Bandung, namun malam itu aku bisa berada di sana, menikmat taman juga berfoto ria dengan tim kerjaku.

Di Bandung, di hotel yang mungil itu, aku langsung menghaburkan diri dalam selimut sebab lelahku tiada bisa berkompromi. Lelah mencarimu di mana saja, bahkan hingga tulisan ini melayang ke mana-mana, kamu masih entah di mana.


Ada yang unik menurutku selama perjalanan di Bandung. Sejauh apa kaki ini melangkah, selalu kampung halaman teringat. Ada Jalan Riau namanya, ada juga sell stock Riau. Tapi aku masih tidak mengerti mengapa jalan itu namanya Riau, apakah yang melatarbelakangi nama itu? ada yang tahu? bisa komentar. Sejak semalam aku banyak berforo kata Riau, ya aku jadi Rindu kampungku yang jauh di sana berserta isinya, juga kenangan masa kecil.

Selesai sarapan pagi, aku jalan kaki sejenak. Menikmati udara segar Bandung bersama rekan kerjaku, namanya Kiki. Dia lucu dan periang orangnya. Ya, itu yang selalu dia perlihatkan di hadapan siapa saja, sifat kekanakannya, lucu dan periang. Bersykur dapat rekan kerja yang asik.

                                    (Foto Rizqi Wardani yang asik berfoto sembari ngeteh malam)

Ya, dari perjalanan jauh, banyak hal yang patut disyukuri, terutama mendapat pimpinan yang hobinya juga travelling. Jadilah aku juga bisa merasakan jalan-jalan ke mana saja dengan gratis. Syukuri saja apa yang ada, sembari tetap mencarimu.

Wahai engkau, wahai Garut, wahai Bandung, wahai Jalanan dan Wahai Tuhanku, terimakasih untuk kehidupanku hingga hari ini.


Writer : Putri Tami