sebelum mata tertutup rapat dan entah esok akan bangkit oleh mentari atau tidak,
sebelum nafas ini tersengal dan terhenti dari jalurnya,
aku ingin menitipkan suratku pada sang malam tentang sebuah negeri yang indah.
"dear negeri ku."
ma`af, jika selama hidupku hanya membuatmu lara. aku sudah memijak tanahmu dengan semauku tanpa permisi. aku sudah mengambil udara mu dengan sesuka hati, aku sudah mengolok-olokmu dengan sesuka hati juga. dan terakhir, ma`af aku menjadi salah satu dari banyaknya penduduk yang ikut menghancurkanmu dengan foya-foya energi atau mengkritikmu tanpa ikut membangun.
negeriku, jika engkau ingin marah, maka marahlah pada kesabaran untuk menghadapi pendudukmu yang belum sadar "betapa berartinya engkau."
negeriku, jika engkau ingin menangis, maka menangislah dalam hujan yang indah dan menenangkan namun jangan sampai membanjiri tanahmu sendiri. bagaimanapun jika engkau membanjiri tanahmu sendiri, maka banyak binatang tak bersalah menajdi korban.
negeriku, perlu engkau ketahui bahwa sejahat dan se-tidak pedulinya aku dengan "keberlangsungan hidupmu" tapi didalam sini (hati) masih ada rasa cintaku untuk selalu mengenangmu, bahwa hanya kamulah negeri yang aku cintai Indonesia.
negeriku, perlu engkau ketahui mengapa aku tidak berdiri dan berkuasa diatas sana, bukan karena aku tidak mampu, hanya saja aku kalah oleh mereka yang berkuasa terlebih dahulu diatasku, mereka benar-benar berkuasa dan banyak pengikut, sedang aku hanya manusia kecil yang kesunyian disini_sendiri.
untuk yang terakhir kali, ma`af Indonesia karena aku belum bisa memberikan apa-apa untukmu, kecuali kecintaanku. aku hanya punya nyawa yang bisa jadi aku relakan untuk mempertahankanmu, tapi tolong kelak jika aku mati jangan ambil organ hatiku_karena disanalah aku akan mengenangmu hingga mungkin ke surgaku."
"pengagumu_penduduk yang tak tau diri."
selamat malam negeriku, dan "kamu" yang baru saja menemaniku dalam chating. salam hangat untuk mimpiku dan mimpimu.
No comments:
Post a Comment