Thursday, 4 August 2016

Perjalanan Itu.




Ada Begitu banyak perjalanan hingga aku ada di tepian ini. Ada begitu banyak cerita yang menguras tenaga untuk aku bisa duduk diam di sini. Duduk setiap pagi dengan segelas kopi, juga koran, dan tumpukan buku-buku. Juga kadang pekerjaan yang menumpuk dari namanya kantor. Semua terlihat seperti kehidupan yang selama ini aku impikan. Semua sudah terwujud hari ini, tapi hati ini masih merasa gelisah. Bukan hidup seperi ini yang aku impikan. Barangkali mimpiku dahulu kurang spesifik.

Dahulu aku hanya bermimpi memiliki kehidupan sendiri, tanpa tergantung dari kiriman orangtuaku. Aku bisa menikmati kehidupan hasil dari kerja kerasku sendiri, dan itu sudah terwujud hari ini. Di sini, dengan segelas kopi, dan iringan musik yang asik. Orang pasti melihatku begitu bahagia dengan keadaan ini. Iya, aku pun merasakan kenikmatan yang orang lihat, namun hanya sedikit. Di balik itu resah hati masih menggunung.

Aku coba kembali ke masa silam, apa yang salah dengan gelisah ini, barangkali karena alasan hati yang masih sendiri sebab baru saja hati terluka akibat ia pergi jauh dan tak mungkin kembali. Jikapun ia kembali, hanya senyum yang bisa aku lihat, dan bahkan senyumannya pun tidak akan pernah aku lihat lagi sama sekali. Baiklah, sudah lupakan alasan pertama, sebab sakit hati bukan alasan pertama hati gelisah, ada hal lain. Dulu aku hanya membayangkan bahwa hidup seperti ini enak. Tapi tidak, aku butuh untuk lebih. Betul kata Pak Rudy, ketika sudah sampai di satu titik yang pernah diimpikan, lalu apa selanjutnya? akankah berhenti di sini menikmati hidup? rasanya tidak. Aku belum seutuhnya menikmati kehidupan, masih banyak hal yang harus aku lakukan di dalam hidup.

No comments:

Post a Comment