Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, 13 May 2016

Koperasi di Desaku yang Berjuang Bangkit.

Hari itu hari kepulanganku untuk menilik kampung yang jauh di sana. Jauh dari kata kampung, lebih lebih dari sekadar kampung, melainkan pelosok kampung. Kaki ini turun di bandara SSQ internasional di Pekanbaru. Bandara yang sudah aku injak tiga kali, dan kemungkinan empat kali jika esok aku kembali ke Yogyakarta.

            Alasanku pulang tidak hanya sekadar pulang. Pertama tentu aku rindu dengan kedua orangtua dan abangku yang kian hari aku sadar aku mencintai dan membutuhkan mereka. Kedua, aku pulang sebab aku ingin menilik kampungku. Apakah masih banyak permasalahan yang ada, dan ternyata iya banyak sekali masalah yang aku temui. Dari masalah pendidikan yang kian hari tidak berubah, dan berjalan di tempat. Pun masalah ekonomi yang sekarang begitu rumit. Sawit tak ada kuncup dan sangat jarang berbuah. Akibat dari buah sawit yang jarang dan juga perekonomian yang buruk, banyak sekali usaha yang merugi atau masyarakat yang gulung tikar tak mampu membayar cicilan bank.

Kata seorang yang paham soal ekonomi dan pertanian, ini bukan semata-mata akibat perekonomian yang anjlok , tapi juga karena asap yang terjadi lama di Riau selama beberapa bulan kemarin. Hasil asap tersebut menghambat tumbuh kembang penyerbukan, dan alhasil sekarang pohon sawit jarang yang berbuah akibat telat penyerbukan. Di tambah lagi kemarau yang berkepanangan. Jadi semua dampak terjadi saat ini, pun perekonomian memang sedang lemah sekali saat ini. begitulah ceritanya mengapa banyak orang gulung tikar dan kredit macet. Tidak ada buah sawit yang dipanen, jika adapun harganya sungguh memilukan. Dengan demikian, lagi dan lagi sawit bukan maha raja yang tidak bisa rugi. Semua ada masa jatuhnya.

            Dan alasan terakhir aku pulang karena aku ingin  magang di sebuah Koperasi Unit Desa. Koperasi itu berjalan dengan baik dan terus tumbuh, sehingga aku ingin belajar saja mengapa bisa hidup demikian. Aku bisa saja magang di perusahaan besar dan terkenal, tapi untuk apa aku magang di perusahaan besar jika aku tidak diajarkan banyak hal. Di sini, di KUD ini, mulai tanggal 28 maret 2016 aku magang dan diajarkan beberapa hal. Terutama soal perhitungan yang matang untuk tidak merugi banyak. Pak Muliendri sebagai kepala kopersi sungguh berdisiplin untuk urusan rugi tidaknya.

28 maret 2016

Hari pertama magangku banyak sekali keresahanku. Pertama, pagi-pagi sekali pukul delapan aku datang ke kantornya. Masih sepi. Kata Pak Muliendri, biasanya karyawan datang jam Sembilan. Ya beginilah kehidupan kantor di desa, kadang para ibu-ibu sibuk mengurusi anaknya sehingga telat untuk datang ke kantor.  Tingkat kesadaran akan disiplin masih di bawah rata-rata. Ini menjadi salah satu penghambat kemajuan suatu daerah. Disiplin wajib ada sekalipun hanya seorang siswa kampung.

Hari yang menurutku luar biasa, walau baru sehari namun Bapak Muliendri memberiku banyak kesempatan belajar. Bukan belajar skill, namun belajar soal pemikiran. Beliau bercerita bagaimana seharusnya berpikir panjang, bukan berpikir setahun ke depan, namun dua puluh lima tahun mendatang mau diapakan koperasi ini. Dan ada beberapa perencanaan yang di buat oleh beliau, salah satunya membangun minimarket sendiri. Ya supermarket yang sederhana saja, namun segala modalnya dari koperasi. Sekarang memang ada minimarket “Halo” namanya, namun milik orang Cina. Mereka bekerjasama pada bagi hasil. KUD mendapatkan 20% dari hasil penjualan. Tidak ada sistem kontrak karena memahami kondisi desa yang masih sepi. Masyarakat masih terbiasa berbelanja di pasar atau toko kelontong, bukan di minimarket seperti itu, jadi Koperasi tidak menarget kontrak bangunan, hanya bagi hasil saja. Dan ini menurutku suatu kemajuan, lebih maju lagi jika nanti yang memiliki bukan lagi orang Cina, melainkan penduduk lokal. Aku berharap di masa depan anak-anak Kerumutan yang memiliki tanah Kerumutan, bukan lagi orang asing yang tidak di kenal. Salah satu harapanku adalah anak-anak sekolah inilah yang nantinya akan meneruskan perjuangan nenek moyang dahulu dalam mempertahankan tanah. Sudah cukup sekiranya anak-anak kerumutan selalu di pimpin orang asing.

Di koperasi ada tujuh pegawai, namun hari ini aku hanya bertemu dengan Bu El, Bu Sri, Bapak Tri asa, Bang Wahid, dan Pak Muliendri, ada dua lagi namun tidak datang. Ada Mas Sus dan pekerja lapangan satu, namun tidak hadir entah mengapa. Untung aku sudah siap mental sehingga pertama magang aku seperti seonggok kertas yang sudah kumel tak dilirik sekali pun. Biarlah. Yang penting Pak Mulindri banyak bercerita denganku tentang analisis ekonomi.

Pukul 12.30 aku pulang. Ya memang kerjanya hanya setengah hari. dan setelah itu aku mengunjungi SMP-ku dahulu. Tidak ada yang berubah setalah hampir ke sekolahku dahulu. Tujuh tahun aku meninggalkan daerah ini, namun tiada yang berubah, begini saja tanpa ada kemajuan. Bertambah pun hanya ada dua gedung baru untuk perpustakaan dan untuk kantor para guru. Selain itu semua sama saja. Sepanjang aku berjalan mengitari koridor sekolah itu, aku berfikir andaikan aku bisa banyak membantu. Apa pun itu akan aku bantu.


14 April 2016

Ada banyak hal yang sudah beberapa hari ini terlewati tanpa aku menulisnya sebagai catatan. Bukan tidak ingin menulis, namun hawa kampungku membuatku bisu dan lesu tiada bersemangat, barangkali memang disiplinku untuk menulis belum kuat. Di kampungku tidak banyak yang aku lakukan beberapa hari ini. hanya melakukan itu dan itu saja. Sebenarnya banyak yang ingin aku buat, namun terhalang oleh kegiatan magangku di koperasi, dan juga aku sebagai wanita yang sulit sekali bebas hidup di kampung. Boleh pergi pun, tiada kawanku. Segala kawan yang aku punya dahulu sudah pergi merantau atau bahkan telah menikah dan memiliki anak, sehingga aku tidak memiliki kawan di kampungku ini.

            Setiap hari hanya bangun pagi, lalu membantu orangtuaku memasak. Begitulah rutinitas perempuan di banyak tempat, tidak hanya di kampungku. Memasak bukan hal baru bagiku walau aku lama merantau, sudah sejak kecil aku terbiasa memasak apa saja. Guru terbaikku adalah ibuku, juga sebagai malaikatku di dunia ini. selesai masak masih ada jeda satu jam sebelum aku berangkat magang, kadang aku gunakan untuk duduk merenung atau membuat kopi sembari sedikit membaca buku. Merenung tentang aku akan hidup di mana, memiliki rumah tangga seperti apa, dan memiliki masa depan yang bagaimana. Aku harus memutus tali kesulitan keluargaku, aku tidak ingin hidup miskin lagi, tapi juga tidak ingin terlalu berambisi.

            Tepat pukul delapan di mana matahari di kampung sudah di bahu langit, aku melangkah menuju tempat magangku yang tidak jauh. Tempat magang yang cukup sederhana, bahkan sangat sederhana. Pintu-pintunya bercat putih sudah kusam. Ukurannya kecil, hanya seukuran rumah dengan dua kamar, bahkan lebih kecil lagi. Tapi di dalam ruang mungil inilah segala kegiatan besar untuk desa terjadi. Contohnya urusan penumbangan sawit yang akan segera terjadi. Koperasi inilah sebagai penggerak utamanya. Semua anggotanya sibuk ke sana dan ke sini mengurusi urusan peremajaan sawit tersebut.

            Barangkali benar bahwa apa-apa yang besar biasanya lahir dari yang biasa dan sederhana namun mau bekerja keras. Dengan hanya tujuh karyawan koperasi dan ruangan yang cukup sempit ini lahirnya banyak pemikiran besar di dalamnya. Terutama pemikiran kepala koperasi ini, beliau tegas namun bijak. Tegas untuk urusan yang memang harus tegas, namun bijak sekali dalam menangani segala masalah yang ada. Pandangannya tidak hanya berpikir untuk dua atau tiga tahun mendatang, melainkan jauh berpuluh tahun mendatang akan bagaimana kelanjutan koperasi ini. tidak boleh mati sebab sudah susah payah di bangun dengan letih dan juga segala daya upayanya.

Writer : Putri Tami 

Saturday, 27 June 2015

Rohingya dalam aksi kamisan di Tugu Yogyakarta




Mereka terombang ambing dengan tidak ada kejelasan rumah. Mereka menyaksikan drama orang terkasih dibantai layaknya seekor binatang. Lalu apakah kita akan diam dengan mereka saudara kita yaitu Rohingnya?
Dunia seakan diam dengan genosida sistematis yang terjadi, seolah lepas tangan kemudian bungkam. Kemana keadilan bagi mereka yang selama ini ramai ddengungkan seluruh manusia di dunia? Kemana tubuh lelah saudara kita itu harus di sandarkan?
Mereka terhuyung dirundung penggusiran dari tanahnya sendiri. Mereka ditolak dimana-mana tanpa tahu salah apa. Lalu hanya pada derita yang dekat dengan kematian mereka pasrahkan diri.
Oh manusia dan dunia. Bukalah mata mereka saudara kita. Mereka bingung mencari tempat untuk berlindung dari sistem yang ganas. Ada yang bilang tragedy ini soal agama. Ada yang bilang soal kekuasaan dan ada yang bilang soal etnis. Maka aku suarakan dengan tegas ini adalah soal kemanusiaan. Soal hak-hak yang dirampas.
Maka, hari ini mari berdiri dan bergandeng serta ulurkan tangan untuk mereka saudara kita-Rohingya.

Pak Narto dalam Sejarah Grakan Buruh






Sebut saja namanya Bapak Narto tetangga kontrakan saya yang pekerjaan sehariannya sebagai buruh pabrik. Kehidupannya seperti kehidupan buruh-buruh lainnya. Setiap pukul tujuh pagi ia telah siap pergi bekerja, dan nanti sebelum Magrib ia kembali pulang pada rumahnya yang bertembok tanpa diperhalus. Bata-bata telanjang tanpa tertutupi semen. Sedangkan istrinya menjual nasi kucing ke sawah, saya tau itu karena sering membeli nasinya pada siang hari. Maklum anak kontrakan begitulah kehidupan saya.
Ada satu hal yang setiap hari mengganggu saya dan tentu kalian semua para pembaca yang budiman. Berangkat pagi dan sore bekerja pada sebuah pabrik namun hanya mampu menyekolahkan sat anak, sedangkan dua anaknya tidak disekolahkan, bahkan istrinya sampai menjual ansi kucing tambahan. Ada apa dengan upah buruh Pak Narto, padahal saya melihat begitu rajin beliau berangkat pagi seperti anak SD dengan sepeda motor bututnya.

Pak Narto membuat saya ingin lebih banyak tahu tentang buruh, terutama sejarah buruh mengapa buruh-buruh hingga kini masih banyak yang diupah dengan murah. Kalau bahasanya Adian Napitupulu adalah dulu budak tidak dikasih upah tapi diberi makan, sekarang buruh diberi upah yang hanya cukup untuk makan, lalu apa bedanya buruh kini dan budak dahulu?

Pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan yang beralasan mengingat sederetan sejarah pergerakan buruh di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya mendapat rekaman hasil diskusi Pak Habibi di MAP UGM tentang sejarah pergerakan buruh. Dapat saya ringkas seperti ini:
Dalam diskusi tersebut di bahas sejarah buruh dalam beberapa masa. Pertama masa colonial, Soekarno, Suharto dan pasca Suharto. Pada masa Kolonial atau yang pada masanya Bung Karno disebut dengan imperialism berawal dari bangsa Eropa yang menjajah Asia untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan pasar dari hasil produk mereka. Pertama perusahaan dagang milik VOC yang mampir ke Indonesia yang awal mulanya hanya berdalih berdagang, namun kemudian memperluas ranah dagangnya di Indonesia. Banyak menyabotase arus-arus dan jalan penting perdagangan , pun bekerjasama dengan raja-raja feudal untuk memperluas kekuasaan. VOC berhasil memperluas Indonesia, dan inilah awal mula imperealisme berkembang di Indonesia.

VOC yang terus berkembang ternyata digerus dengan masalah internalnya sendiri dan mengalami kebangkrutan akibat dilanda oleh maraknya korupsi. Jatuhnya VOC ini diambil alih oleh Belanda yang kemudian Belanda memperluas perolehan bahan baku dengan mengadakan tanah paksa hingga tahun 1870. Tanam paksa mampu dan berhasil memperkaya bangsa Belanda yang jumlah penduduknya hanya setengah Jawa Tengah. Namun akhirnya VOC dibubarkan untuk alasan etis-ketidakmanusiaan, namun yang paling mendasari dihentikannya tanam paksa karena kepentingan kapital pemerintah di Belanda menyadari bahwa Indonesia khususnya tanah Jawa adalah lumbung kekayaan yang empuk, sehingga pihak Belanda mengajukan Undang-undang kepada parlemen untuk memberikan izin konsesi perkebunan pada perusahaan swasta lainnya.

Pada tahun 1870 UU agrarian disahkan dan kolonial belanda diijinkan untuk masuk untuk menguasai tanah-tanah Jawa yang begitu subur. Banyaknya perusahaan swasta muncul dan mereka bersaing untuk menguasai tanah Jawa serta pasar yang menggunakan uang dipandang mulai penting bagi amsyarakat, munculah buruh yang bekerja untuk diupah.
Dengan UU agrarian tersebut buruh dibebaskan untuk bekerja di masa saja dan bebas memilih perusahaan, namun kebebasan buruh tersebut diimbangi dengan pencabutan hak diperhatikan. Pada masa sebelum UU agrarian ini disahkan, masyarakat diperhatikan dalam hal makanan, namun hak ini dihapuskan dengan dibebaskannya buruh memilih pabrik untuk bekerja.
Sudahlah hak diperhatikan dihapus, ditambah dengan upah rendah serta mencekiknya kebutuhan, maka gerakan buruh mulai bermunculan. Hal ini juga disebabkan oleh revolusi rusia antara buruh rusia dengan penguasa otoriter Rusia yang akhirnya menginspirasi gerakan merah di Surabaya, dan melakukan peralwanan hingga merembet ke segala sektor, termasuk buruh perkereta apian, perkebunan dan lainnya. Zaman ini dikatakan sebagai zaman bergerak karena periode ini pergerakan buruh begitu dahsyat.

1920 kembali terjadi aksi besar-besaran yang dipicu dengan pemangkasan upah buruh akibat harga gula turun dan perusahaan mau tidak mau memangkas ongkos produksinya, dan upah buruhlah jadi tumbalnya. Namun pada tahun 1923 pemerintah colonial Belanda mengeluarkan UU anti mogok yang melarang buruh untuk mogok kerja dan ikut organisasi pergerakan buruh, yang melanggar akan di buang ke luar Jawa atau minimal dipecat.
1945 sukarno menjadi presiden dan ia anti imperialism. Di masa ini serikat buruh muncul banyak sekali. Gerakan buruh sentral yang beraliran kiri di bawah naungan PKI ini begitu pesat dan maju. Hal ini yang membuat PKI mampu menempati posisi ke 4 pada saat pemilu. 
Pada masa ini mulai tampak pergeseran kepentingan, Suokarno yang mengakomodasikan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, dan Soekarno pun anti kapital asing, sehingga terjadilah menasionalkan perusahaan asing di Indonesia.
Pada masa Soekarno, penduduk yang memilihi tanah lebih dari 5 ha akan dibeli atau dikurangi menjadi hanya 3 ha, dan sisanya dibagikan kepada buruh yang memang tidak memiliki apa-apa, atau penduduk yang menganggur. Kebijakan ini banyak mendapat pertentangan dari raja Feodal ataupun masyarakat yang memiliki banyak tanah, sekaligus tuan tanah yang paling keras menolak.
Kemudian pada tahun 1965 Suharto naik dan mengubah UU agrarian serta kebijakan Soekarno tersebut. Pada masa penumpasan PKI, seluruh pergerakan buruh lemah dan hampir tidak tersisa. Suharto terus membuat kebijakan untuk mengantisipasi gerakan buruh kembali tumbuh, dan akhirnya menyederhanakan gerakan buruh. Salah satunya mengubah nama buruh menjadi pekerja, asalannya akrena nama buruh dianggap merusak citra pembangunan Indonesia, dan diganti nama pekerja yang lebih bersahabat dengan pembangunan negeri. Pada nama pekerja inilah muncul namanya upah minimum yang tidak jauh berbeda dengan upah untuk para budak. Upah ini tidak banyak, hanya cukup untuk makan. Hal ini memang disengaja agar pada pekerja tidak dapat berbuat lebih untuk membeli buku, atau membeli banyak hal, atau pun bersekolah agar para pekerja tetap bisa dibodohi.
Pada masa Suharto, muncul juga namanya outsourcing  dan Sistem kontrak. Intinya manusia sebagai komoditas saja, contohnya kapan saja perusahaan bisa mengambil pekerja untuk dikontrak, lalu setelah kontrak selesai dibebaskan kembali untuk memilih melanjutkan bekerja atau pindak bekerja ke perusahaan lainnya. Padahal yang sebenarnya pekerja adalah manusia yang tidak bisa bertahan hidup seperti komoditi. Manusia makhluk hidup.

Implikasi yang nyata bahwa sistem autscourshing dan  kontrak dimunculkan untuk mengurangi aksi buruh. Karena dua sistem ini membuat pekerja memiliki umur pendek di perusahaan, sehingga pekerja enggan untuk mengikuti aksi buruh yang menggaungkan hak2 buruh. Pada intinya outscourshing dan sistem kontrak ini memperlemah gerakan buruh.
Kembali pada cerita Bapak Narto. Tidak heran jika gaji bulanannya selalu hanya cukup untuk akan dan sedikit keperluan lainnya. Struktur besar telah mengatur hal tersebut. Banyak tangan-tangan tidak berwujud mengontrol buruh, alasannya simple karena mereka tidak ingin ongkos buruh tinggi dan mengurangi laba perusahaan serta para pemilik Kapital tidak ingin tumbuhnya gerakan buruh yang sadar hak-hak buruh.
Dari semua pengontrolan tadi buruh tidak pernah diam, selalu melawan dan menghasilkan sekecil apa pun perubahan. Jadi masih ada peluang dan pilihan untuk menerima atau menolak seperti buruh sebelumnya yang memilih untuk melawan. 


Pendidikan Kini Menghasilkan Luka




Bila kau muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya pintar dan tinggi untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja hanya dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali. (Tan Malaka)
           
Lagi dan lagi membahas pendidikan yang terjadi masa kini. Masa di mana segala sesuatu seakan berjalan sendiri dan terlalu cepat. Manusia menamakan globalisasi. Pendidikan di masa globalisasi yang tidak bisa dimengerti. Bukan semata kurikulum yang terus berganti jika Menterinya berganti, bukan juga soal pendidikan yang sulit menyentuh kaum menengah dan bawah, namun soal pendidikan yang tidak dapat dimengerti lagi apa tujuannya.
Tujuan utama pendidikan yaitu bagaimana mengenalkan manusia  pada lingkungan dan realitas yang ada. Seperti kata Paulo Freire dalam bukunya Politik pendidikan. Pendidikan harus mampu menghasilkan output yang dapat membaur dengan masyarakat sebagai bentuk kepekaan sosial. Bukan justru merasa asing setelah keluar dari ruang kotak-kotak bernama kelas. kelas yang seharusnya tidak membatasi dengan dunia luar, namun pada realitasnya justru menjadi tempat mengisolir perilaku sosial.
Di sini, penulis lebih menyoroti dunia mahasiswa. Di dunia yang katanya maha dari segala siswa, justru menjadi sebuah pertanyaan, pentingkah adanya mahasiswa sekarang? Mengingat mahasiswa yang dihasilkan pendidikan justru jauh dari yang diinginkan masyarakat dan tatanan kehidupan. Di dalam kelas, kini mahasiswa didongengkan puluhan teori yang kadang tidak dapat dimengerti bahkan justru membuat mengantuk.
Penulis pernah melakukan beberapa pengamatan selama beberapa hari dengan kelas-kelas yang berbeda tentang situasi di dalam kelas. hasil yang sangat mencengangkan bahwa dapat dikatakan hampir seluruh mahasiswa di dalam kelas lebih suka bermain ponselnya dibandingkan mendengarkan Dosen berbicara di dalam kelas. ketika beberapanya diwawancarai, mereka mengatakan "Lebih baik main ponsel, bukan berarti kami tidak menghargai dosen, melainkan cara dosen mentransfer ilmu pada kami menjenuhkan. Teori-teori yang selalu dikatakan itu dan itu saja. Pelampiasan bosan di dalam kelas kami tujukan apda ponsel. Kadang juga dosen diam melihat kami mainan ponsel, jadi ya kami asik-asik saja. Dosen senang menjelaskan, dan kami sedang dengan sunia kami."
Bukan bermaksud menyalahkan satu pihak, namun memang begitu kurikulum yang ada pada masa kini. Kurikulum dengan ketat dijalankan dan harus diselesaikan tepat pada waktunya. Mau tidak mau dosen pun seperti dikejar Tuhan dan begitu patuh terhadap aturan. Aturan yang membuat dosen menjelaskan dengan cepat dan tanpa berfikir hal lain selain materi disampaikan selesai tepat pada waktunya.

Peran Kurikulum.
Siapa bilang kurikulum yang telah sistematis akan mampu membawa output pendidikan pada ranah yang berkualitas. Banyak penelitian telah dilakukan, salah satunya penulis merangkum penelitian dari Emil Bachtiar,dkk (2015) tentang  peran kurikulum terhadap tindakan tidak beretika. Menurut Emile, dkk bahwa kurikulum tidak hanya sekedar apa yang tertera pada kertas, namun yang paling penting adalah bagaimana cara mentransfer kurikulum pada maha(siswa) agar apa yang ada pada kurikulum benar-benar sampai pada hati maha(siswa) dan membentuk good karakter. Yang paling penting lagi adalah  peran guru, dosen, dan tenaga pengajar yang menajdi jembatan serta kunci keberasilan kurikulum yang ada.
Entah apa dasarnya mahasiswa diarahkan pada kurikulum berbasis kompetensi yang dinilai justru sangat membuat mahasiswa terbebani. KBK pada bangku perkuliahan membuat mahasiswa tidak bisa berkutik dan berjibaku dengan sosial serta kegiatan-kegiatan aktif lainnya. Dengan KBK dapat dikatakan bahwa mahasiswa dipenjara dalam kotak jurusan dan dimatikan haknya untuk bebas menelusuri bakatnya.
Sistem yang membuat mahasiswa menjadi kurir tugas dan segala kerjaan di atas kertas menjadikan mahasiswa buta terhadap permasalahan yang ada. Pernah penulis mendengar cerita seorang dosen bahasa Indonesia yaitu Ahmad Sahide menceritakan tentang anak akuntansi yang tidak tahu menahu soal inflasi Negara Indonesia, besaran APBN, kebocoran APBN, dan beberapa kasus ekonomi lainnya, Ahmad Sahide menuturkan alasan banyak mahasiswa menjawab demikian karena di bangku perkuliahan tidak diajarkan secara mendetail. Beliau tercengang, hal-hal yang penting justru kadang lupa tidak disinggung dan hanya berfokus pada teori saja. Hal ini sangat menghawatirkan kita semua.
Kembali pada kurikulum yang dibuat dengan sedemikian lama karena mempertimbangkan banyak hal, apakah masih perlu kurikulum dengan sistim KBK di kampus terus dijalankan jika hanya menghasilkan manusia-manusia penurut tanpa bisa menganalisis masalah? Jangan sampai kurikulum dibuat hanya untuk menghasilkan mesin-mesin yang dibutuhkan pabrik. Kurikulum seharusnya digagas untuk bagaimana dapat meniptakan output yang memiliki gagasan dan karakter yang baik.

Pendidikan itu Luka.
Kita tinggalkan kurikulum dan segala system yang ada. Kini saatnya penulis mengajak kalian untuk langsung pada masyarakat. Beberapa hari yang lalu, di senja yang belum sempurna sembunyi di balik langit, penulis bersantai duduk di depan halaman kampus. Dan di sana masih ramai dengan beberapa orangtua yang sejak pagi menunggui anaknya untuk mendaftar menjadi seorang yang penulis ngeri mendengarnya "mahasiswa."
Penulis berbincang panjang tentang asal bapak tersebut yang sangat jauh dari pedalaman Jambi. Setelah lama bercerita, sampailah penulis pada maksus menanyakan alasan apa beliau mendaftarkan anaknya ke Jawa terutama Yogyakarta dan khususnya kampus ini. kebetulan anaknya mengambil ekonomi. Beliau mengatakan pendidikan di Yogyakarta terkenal bagus dna murah. Di luar Jawa rupanya terkenal kehidupan Yogyakarta yang murah dan pendidikan yang berkualitas, penulis hanya menggut-manggut padahal di kampus penulis terutama fakultas penulis, biaya kuliahnya mencekik. Rakyat kecil takkan bisa mendaftar di sini. Terus bapak tersebut bercerita dan terus bercerita hingga terbongkarlah beliau bisa sampai di Yogya dengan menggadaikan sertifikat rumahnya.
Sudah, ceritanya samapai di sini. Hal yang penting adalah masyarakat rela melakukan apapun agar anaknya masuk kelas pendidikan yang lebih tinggi dan digadang menjadi seorang sarjana yang membanggakan.
Aduh dan aduh. Hati penulis rupanya terluka mengingat harapan bapak tersebut terlalu tinggi karena rupa pendidikan negeri ini hampir berganti menajdi sosok yang justru menakutkan. Selain hati penulis terluka, penulis tentu mengerti jerih pahit bapak tersebut untuk sampai di Yogyakarta dengan menggadaikan sertifikat rumahnya. Semoga, harapan bapak tersebut menjadi kenyataan. Dan pemikiran penulis menjadi hilang ditelan kenyataan.

Putri Tami
Mahasiswa akuntansi UMY